Mapi León resmi menjadi bagian dari London City Lionesses pada musim panas ini, sebuah keputusan yang mengejutkan dunia sepak bola wanita. Dalam wawancara besar pertamanya sejak pindah dari Barcelona, bek tengah asal Spanyol itu mengungkapkan alasan di balik langkah beraninya tersebut. “Klub ini dibuat untuk wanita. Ini indah dan menarik,” katanya tentang tim asal Kent yang kini menjadi rumah barunya.
Kepindahan ini menjadi salah satu transfer paling mengejutkan di bursa musim panas. León, yang menghabiskan sembilan tahun penuh gelar di Barcelona, memilih pindah ke klub yang musim lalu finis di peringkat keenam Liga Super Wanita Inggris (WSL), meninggalkan tim juara bertahan Liga Champions. Ia tidak sendirian: rekan setimnya di timnas Spanyol, Alexia Putellas, juga bergabung ke klub yang sama, bersama sederet nama besar lain seperti Mary Earps dan Kadidiatou Diani.
Mapi León London City Lionesses: Alasan Tinggalkan Barcelona
Dalam wawancara yang dilakukan di sebuah hotel yang tenang di dekat Maidstone di bawah sinar matahari cerah, pemain berusia 31 tahun itu tampak sangat bahagia dengan keputusannya. “Tubuh saya menginginkan sesuatu yang berbeda,” ujarnya. “Saya menghabiskan bertahun-tahun dalam posisi nyaman, karena bermain di Barça sungguh luar biasa dan sangat menyenangkan, dan gaya permainannya sangat cocok dengan saya.”
León ingin menguji kemampuannya di liga dengan gaya bermain yang jauh berbeda dari Liga F Spanyol. “Saya akan berusaha beradaptasi dengan liga ini dan membuktikan pada diri sendiri bahwa saya mampu bersaing dalam gaya bermain yang bukan gaya terbaik saya,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa Liga Inggris bisa memberikan banyak pelajaran, terutama dalam hal transisi, permainan dengan ruang lebih luas, dan tekanan tinggi dari lawan.
Selama membela Barcelona sejak 2017 setelah pindah dari Atlético Madrid, León mengoleksi tujuh gelar liga, tujuh Piala Ratu, dan empat gelar Liga Champions. Ia dikenal sebagai bek tengah dengan kualitas distribusi bola terbaik di generasinya dan menjadi salah satu legenda klub yang tak terbantahkan. Namun, semua pencapaian itu tidak membuatnya berhenti ingin berkembang.
Keputusan Pribadi, Bukan karena Ajakan Putellas
Pengumuman kedatangan Putellas dan León di London City Lionesses terpaut lima hari pada Juli lalu, sehingga banyak yang menduga keputusan mereka saling terkait. Namun, León membantah anggapan tersebut. “Tidak juga, tidak. Kami menganggap masalah pribadi sangat serius,” katanya.
Menurut León, setiap pemain memiliki kebutuhan yang berbeda dalam kariernya. “Apa yang benar-benar kamu butuhkan saat ini? Apa kata tubuhmu? Menurutmu apa yang terbaik untuk terus berkembang dan menjaga ambisimu?” ujarnya, menggambarkan pertanyaan-pertanyaan yang membimbing keputusannya. “Setiap orang membutuhkan hal yang berbeda. Jadi, tidak ada banyak komunikasi di antara kami, dan keputusan itu tidak direncanakan.”
León menjadi satu dari empat starter timnas Spanyol yang meninggalkan Barcelona pada musim panas ini. Ona Batlle pindah ke Arsenal, Salma Paralluelo bergabung dengan Olympique Lyonnais, dan Alexia Putellas memilih London City Lionesses bersama León. Kepergian para pemain bintang ini menjadi sorotan besar di tengah hiruk-pikuk bursa transfer sepak bola wanita.
Michele Kang dan Visi Klub Khusus Wanita
Di balik rentetan rekrutan bintang itu ada sosok Michele Kang, pengusaha asal Amerika Serikat yang menjadi pemilik klub. Kang membawa visi besar menjadikan London City Lionesses klub yang sepenuhnya berorientasi pada sepak bola wanita. León mengaku sangat terkesan dengan ambisi dan mentalitas juara pemilik klubnya itu.
“Kesan yang saya dapat adalah seorang wanita yang berdaya, dengan pola pikir menang, didorong oleh keinginan untuk melihat berbagai hal membaik,” kata León tentang Kang. “Saya ingin menjadi bagian dari klub ini karena klub ini diciptakan untuk wanita, dan itu tidak biasa. Saya pikir ini indah dan menarik.”
León juga menyoroti pentingnya melihat sesama perempuan berbuat banyak untuk kemajuan olahraga wanita. “Melihat wanita lain melakukan begitu banyak hal untuk membantu pertumbuhan sepak bola wanita, saya rasa mustahil untuk tidak menghargainya. Itu adalah sesuatu yang sangat kuat,” ucapnya.
Masa depan Phil Foden di Manchester City kini berada di tangan Enzo Maresca, manajer anyar yang menggantikan Pep Guardiola. Foden sendiri mengaku sangat antusias menyambut era baru tersebut, tetapi jurnalis The Guardian, Jonathan Liew, menilai pernyataan itu tidak lebih dari kebohongan yang terang-terangan. Tidak diragukan lagi, Foden antusias untuk bermain sepak bola lagi, menantang gelar bersama klub masa kecilnya, menyambut musim baru Liga Premier, kontrak barunya, dan awal yang segar. Namun antusiasme untuk bekerja di bawah Maresca? Itu cerita yang berbeda.
Tapi mari kita jujur. Hal-hal yang membuat orang antusias biasanya adalah liburan, ulang tahun, pernikahan, atau kiriman paket dari Amazon. Bermain untuk Enzo Maresca jelas bukan salah satunya. Paling banter, pemain hanya bisa bersiap diri, menguatkan mental, lalu bercermin setiap pagi dan bertanya apakah dirinya cukup kuat untuk sang pelatih. Kalau ada pemain yang benar-benar antusias, itu justru berarti Maresca gagal melakukan tugasnya.
Metode Ekstrem Maresca yang Bikin Pemain Ciut
Maresca bukan pelatih biasa. Ia dikenal dengan metode yang sangat menuntut: kerja kelas selama berjam-jam, analisis video yang melelahkan, disiplin tanpa kompromi di lapangan latihan, umpan balik yang blak-blakan, bahkan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemain saat membela timnas. Semua itu dirancang untuk menanamkan blueprint permainannya ke dalam sistem saraf setiap pemain secara permanen.
Salah satu detail paling menarik dari sifat perfeksionis Maresca adalah aturan aneh ketika timnya mencetak gol. Kapten tim dilarang ikut merayakan dan harus segera mendekat ke pinggir lapangan untuk menerima instruksi taktik berikutnya. Dari kebiasaan sekecil ini saja, kita bisa membayangkan betapa ketatnya atmosfer yang diciptakan pelatih asal Italia tersebut.
Hampir Satu Dekade, tapi Seberapa Jauh Kita Mengenal Foden?
Di tengah hiruk-pikuk pergantian pemain di kawasan timur Manchester pada musim panas ini, alur cerita yang paling menarik justru datang dari sesuatu yang nyaris tidak berubah: siapa sebenarnya Phil Foden. Di bawah Pep Guardiola, Foden memenangkan hampir semua gelar yang ada di sepak bola klub. Ia dijuluki talenta generasional sejak kecil, tampil di tiga turnamen internasional bersama Inggris, dan menjadi bagian dari salah satu tim terhebat yang pernah ada.
Kini usianya menginjak 26 tahun, dan kita sudah mengamatinya selama hampir satu dekade. Namun anehnya, pertanyaan paling mendasar pun belum terjawab. Ambil satu contoh sederhana: bahkan di tahun 2026, tidak ada yang benar-benar tahu posisi terbaiknya. Apakah ia penyerang atau gelandang serang? Bermain di tengah, melebar, atau mulai dari sayap lalu masuk ke tengah? Di lini kedua, di garis pertahanan terakhir, atau justru di antara garis-garis itu?
Kalau dipikir lagi, apa sebenarnya yang ia lakukan di lapangan? Foden punya umpan yang baik, tetapi bukan pengumpan murni. Kakinya lincah, tetapi bukan dribbler murni. Ia mencetak gol, tetapi tidak bisa disebut pencetak gol elit—kecuali pada musim 2023-24, ketika ia secara tak terduga mulai melesakkan gol-gol spektakuler dari jarak 25 yard. Dalam satu aspek permainan pun ia mungkin tidak masuk 10 besar dunia, tetapi tetap menjadi pemain yang sangat bagus dengan alasan yang sulit dijelaskan.
Inilah yang membuat semuanya makin membingungkan. Bagaimana mungkin setelah 49 caps internasional dan 225 pertandingan di liga yang paling diawasi di dunia, kita masih belum paham tipe pemain seperti apa dirinya? Bahkan pengamat yang paling tajam pun hanya bisa menebak, karena setiap musim Foden tampil dengan peran yang berbeda-beda.
Kontradiksi Guardiola soal Posisi Terbaik Foden
Selama sembilan musim menjadi manajernya, Guardiola sebenarnya sudah banyak memberikan jawaban—meski tidak selalu dalam urutan yang masuk akal. Pada 2022, ia menyebut posisi sayap lebih cocok untuk Foden sambil memprediksi ia akan pindah ke tengah suatu saat nanti. Setahun kemudian, Guardiola justru memperingatkan bahwa Foden terlalu “insting bebas” untuk dipercaya memegang peran sentral.
Memasuki pra-musim Championship, sebagian klub di English Football League (EFL) justru diliputi kecemasan, bukan optimisme. Musim baru memang seharusnya menjadi lembaran bersih yang penuh harapan dan peluang. Namun jelang laga pembuka Jumat malam yang mempertemukan Wolves dengan Blackburn di Molineux, semangat pembaruan itu ternyata tidak dirasakan semua tim.
Komposisi peserta Championship musim ini sungguh menakutkan. Wolves dan West Ham, dua klub yang sebelumnya mapan di Premier League, harus memulai dari divisi kedua. Burnley, Middlesbrough, dan Southampton juga diprediksi akan bersaing memperebutkan tiket promosi. Tak heran, suporter klub yang tidak menikmati dana parachute dan skuad yang masih dihuni pemain kelas Premier League memilih bersikap waspada. Sebagian bahkan membayangkan musim yang panjang dan melelahkan.
Laga Pembuka Pra-musim Championship: Ujian Berat bagi Blackburn
Blackburn menjadi contoh paling gamblang dari kecemasan itu. Musim lalu mereka nyaris terdegradasi setelah hanya mampu finis di peringkat ke-20, dan suporter pun maklum jika ekspektasi diturunkan sebelum timnya melawat ke Molineux. Tony Mowbray, pelatih berusia 62 tahun, kembali ke Ewood Park untuk menjadi penunjuk arah yang berpengalaman. Namun tugasnya sangat besar: menghindarkan Rovers dari perang degradasi musim ini.
Suporter percaya bahwa pemilik klub dan kepala operasional sepak bola, Rudy Gestede, kurang memberi dukungan kepada Mowbray dalam belanja pemain. Kekurangan paling terasa ada di lini tengah. Sam Morsy, gelandang berusia 34 tahun yang datang dengan status bebas transfer, memang menambah kekuatan di area tersebut. Mowbray bahkan menyebutnya “pria sejati, seorang prajurit”. Sayangnya, Morsy hanyalah rekrutan ketiga Blackburn musim panas ini setelah Moussa Baradji dan Jayden Fevrier.
Mowbray sendiri blak-blakan soal kebutuhan timnya. “Saya agak serakah soal pemain bagus,” ujarnya. “Saya terus berkata kepada Rudy: saya hanya ingin pemain bagus, tidak masalah dari mana asalnya atau berapa usia mereka. Saya ingin melihat kepribadian di lapangan, pemain yang mati-matian ingin menang.”
Pekan lalu Blackburn menang 2-1 atas Burton di putaran pertama Carabao Cup, meski butuh gol telat dari Andri Gudjohnsen dan Fevrier. Fevrier, yang direkrut dari Stockport, diyakini Mowbray bisa menghadirkan “keajaiban” di sisi kanan penyerangan. Kemenangan itu sedikit melegakan, tetapi jelas belum cukup untuk meredam kekhawatiran suporter.
Bolton: Euforia Promosi yang Cepat Memudar
Tidak jauh dari Blackburn, dua klub Championship lain juga diliputi kegelisahan jelang musim baru. Bolton dan Preston akan saling berhadapan di Toughsheet Stadium pada Sabtu siang, laga yang bisa menentukan arah musim keduanya. Bolton seharusnya masih berada di puncak kebahagiaan; mereka menutup musim lalu dengan pembantaian 4-1 atas Stockport di final play-off League One.
Namun dunia sepak bola musim panas ini menyaksikan bagaimana euforia promosi bisa cepat sirna. Di York, manajer Stuart Maynard justru dipecat meski membawa timnya juara National League dengan koleksi 108 poin, lalu digantikan Scott Lindsey. Jurang antara Championship dan League One yang kian lebar membuat kebutuhan Bolton untuk memperkuat skuad menjadi mendesak. Realita memang cepat menggigit.
Enam pemain baru telah tiba di Bolton: David Watson, Ben Davies, Akin Famewo, Luca Stephenson, Kyliane Dong, dan Gaizka Larrazabal. Namun para penggemar merasa masih perlu tambahan pemain bintang, terutama di lini serang, karena risiko membebani striker Sam Dalby terlalu besar. Pernyataan Schumacher pekan lalu bahwa Bolton “tidak bisa membuang-buang uang” langsung membunyikan alarm di kalangan suporter. Dana yang tersedia memang tidak melimpah, tetapi pemain depan tetap harus didatangkan.
“Kami tahu kami kekurangan, terutama di lini terdepan,” kata Schumacher. “Anggaran kami tidak besar, jadi kami harus memastikan merekrut pemain yang tepat, bukan sekadar mengisi jumlah. Kami perlu konsolidasi tahun ini, membangun kembali, menambah modal, membawa skuad yang lebih baik agar bertahan di level ini, lalu melangkah lebih jauh.” Schumacher menyebut “bagian dari perjalanan ini adalah hal yang menarik”, tetapi nada negatif dari sebagian fans sudah muncul sebelum bola Championship ditendang. Kekalahan 0-1 dari Sheffield Wednesday di Carabao Cup memperkuat kekhawatiran soal lini depan. Max Dean dari Gent menjadi incaran, tetapi striker berusia 22 tahun itu hanya punya pengalaman singkat di sepak bola Inggris bersama MK Dons.
Preston: Drama Whiteman dan Tekanan di Deepdale
Preston berharap bisa memanfaatkan ketidakpastian yang melanda Bolton pada Sabtu nanti. Namun Paul Heckingbottom pun punya masalah pelik di bursa transfer musim panas ini. Kisruh publik dengan Ben Whiteman soal keinginan gelandang itu pindah ke Wrexham meninggalkan awan gelap di atas klub dan membuat Preston kehilangan kapten tim.
Heckingbottom menilai Whiteman “melewati batas” dan merasa frustrasi dengan saga tersebut. Meski demikian, uang tetap dibelanjakan di Deepdale. Alfie Devine didatangkan dari Tottenham dengan biaya sekitar £6 juta, sementara Callum Lang, yang tiba Januari lalu dengan banderol sekitar £2 juta sebelum cedera, disebut Heckingbottom “terasa seperti rekrutan baru”.
Dengan begitu, tekanan di pundak Heckingbottom mungkin belum pernah sebesar ini. Hanya empat kemenangan dari 20 pertandingan terakhir musim lalu memunculkan suara-suara ketidakpuasan dari penggemar. Preston bahkan menginvestasikan sekitar £1,5 juta untuk memasang lapangan hybrid modern di Deepdale. Klub jelas mengharapkan hasil yang lebih baik dari finis peringkat ke-14 musim lalu, tetapi ekspektasi bisa menjadi beban yang berat.
Kesenjangan Kelas di Championship dan Nasib Klub Tanpa Dana Parachute
Kisah York musim panas ini menjadi pengingat bahwa prestasi besar sekalipun tidak menjamin stabilitas. Juara National League dengan 108 poin tetap bisa kehilangan manajer. Di Championship, persaingan musim ini terasa semakin kejam dengan hadirnya Wolves, West Ham, Burnley, Middlesbrough, dan Southampton yang punya kualitas skuad level Premier League.
Bagi klub seperti Blackburn dan Bolton yang tidak menikmati dana parachute, tantangan utamanya adalah bertahan di tengah dominasi tim-tim kaya. Bursa transfer belum ditutup, dan tambahan pemain masih bisa mengubah peta kekuatan. Namun keterbatasan finansial membuat gerak mereka terbatas.
Yang jelas, narasi “musim baru selalu penuh harapan” tidak berlaku merata. Sebagian klub memulai musim dengan keyakinan, sebagian lain hanya bisa berharap tidak tenggelam. Pekan pembuka akan menjadi indikator awal, meski jalan masih sangat panjang.
Kecemasan di kubu Blackburn, Bolton, dan Preston menunjukkan bahwa sepak bola tidak pernah linear. Promosi, investasi, dan nama besar tidak otomatis menjamin ketenangan. Namun justru di tengah keterbatasan itulah karakter sebuah tim diuji.
Musim Championship yang akan bergulir menjanjikan drama dari laga ke laga. Bagi klub-klub yang merasa tertinggal, setiap pertandingan adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa harapan, sekecil apa pun, tetap layak diperjuangkan. Dan bagi para suporter, dukungan tetap menjadi bahan bakar utama di tengah ketidakpastian.
Jordan Nobbs menegaskan bahwa membawa Newcastle promosi ke Women’s Super League (WSL) adalah impian yang sangat ingin ia wujudkan. Gelandang yang telah mengoleksi 71 caps bersama tim nasional Inggris ini menyebut misi tersebut sebagai “pekerjaan yang tuntas” jika berhasil dilakukan. Baginya, menghadirkan wakil dari kawasan timur laut Inggris ke kasta tertinggi sepak bola putri akan menjadi pencapaian yang tak ternilai.
Nobbs, yang lahir di Stockton-on-Tees, percaya sepak bola putri di wilayahnya akan diuntungkan besar bila ada klub dari timur laut yang berlaga di divisi teratas. Newcastle sendiri mengakhiri musim lalu di posisi keenam WSL2 (kasta kedua), tertinggal 11 poin dari juara Birmingham dan sembilan poin dari zona playoff. Namun pada musim panas ini, klub menunjukkan ambisinya lewat sejumlah rekrutan dari tim-tim divisi utama.
Target Jordan Nobbs dan Newcastle: Promosi ke WSL
Nobbs tidak ragu menyebut target Newcastle untuk musim baru: promosi. Ia mengakui target serupa juga sempat disuarakan pada musim lalu, tetapi kini tekad itu harus diwujudkan. “Saya selalu bilang segala sesuatu tidak terjadi dalam semalam, tapi itulah tujuan kami. Kamu harus mengatakannya dengan lantang,” ujarnya.
Untuk mewujudkan target itu, Newcastle tidak setengah-setengah di bursa transfer. Klub mendatangkan sejumlah pemain berpengalaman dari divisi utama, sebuah sinyal nyata bahwa mereka serius mengejar promosi. Beberapa rekrutan anyar yang sudah resmi bergabung antara lain:
Martha Thomas dari Tottenham;
Leanne Kiernan dari Liverpool;
Gemma Evans dari Liverpool.
Kedatangan para pemain ini jelas menambah daya saing skuad Newcastle. Nobbs sendiri optimistis timnya bisa bersaing di papan atas musim ini. Ia mengingatkan bahwa seluruh pemain harus segera menyatu agar target promosi bisa tercapai.
Evaluasi Musim Lalu: Sembilan Hasil Imbang yang Terlalu Banyak
Menilik kembali perjalanan musim lalu, Nobbs mengakui Newcastle menampilkan sejumlah performa yang sangat baik. Namun sembilan hasil imbang membuat timnya kehilangan terlalu banyak poin dan akhirnya gagal menembus zona promosi. “Itu terlalu banyak poin yang hilang,” katanya. “Kami hanya perlu fokus mencari cara untuk menang.”
Nobbs menilai selisih kualitas Newcastle dengan tim-tim teratas sebenarnya tidak terlalu besar. Ia menekankan pentingnya membangun dari hal-hal positif yang sudah ada musim lalu daripada mengubah banyak hal. “Saya pikir kami tidak jauh dari itu,” tambahnya. Konsistensi dan kemampuan memenangi laga-laga ketat menjadi kunci yang harus ditingkatkan.
Perjalanan Nobbs dan Minimnya Wakil Timur Laut di WSL
Nobbs memulai kariernya di Sunderland dan sempat tampil di divisi teratas bersama klub tersebut. Namun ketika WSL diluncurkan pada 2011 dan aplikasi Sunderland untuk bergabung ditolak, ia memutuskan pindah ke Arsenal. Kepindahan itu sekaligus membubarkan tim Sunderland yang kala itu juga diperkuat Lucy Bronze dan Lucy Staniforth, dua pemain yang kelak menjadi rekan Nobbs di tim nasional Inggris.
Sunderland memang sempat kembali berlaga di kasta tertinggi pada periode 2015 hingga 2018. Meski begitu, representasi timur laut di WSL tetap sangat jarang. Karena itu, Nobbs bersyukur melihat investasi yang mengalir ke Newcastle dalam beberapa tahun terakhir, sementara salah satu rival mereka di WSL2 baru saja diambil alih oleh Bay Collective pada Juni lalu.
Promosi Bisa Mengubah Wajah Sepak Bola Putri di Timur Laut
Bagi Nobbs, promosi Newcastle bukan hanya soal kebanggaan klub, tetapi juga masa depan sepak bola putri di kawasan utara. “Sudah lama sekali dinanti, tapi inilah yang selalu kami inginkan sebagai orang utara,” katanya. “Kami tidak ingin timur laut meredup. Kami ingin menunjukkan para pemain yang berasal dan berkembang dari sana.”
Menurut Nobbs, arah pertumbuhan sepak bola putri di kawasan itu kini sudah benar. Namun batu loncatan terbesar adalah tembus ke WSL, yang akan menjadi momen kembalinya timur laut ke peta sepak bola putri Inggris. Ia pun ingin menjadi bagian dari sejarah tersebut. “Saya ingin sekali terlibat di dalamnya,” ujarnya.
Nobbs Menemukan Kembali Performa Terbaiknya
Di usia 33 tahun, Nobbs justru merasa menemukan kembali performa terbaiknya bersama Newcastle. Setelah bergabung pada Juli lalu, ia mengaku sangat menikmati perannya dalam skuad asuhan Tanya Oxtoby. Perbedaan paling terasa adalah posisinya di lapangan yang kini kembali lebih maju dan menyerang.
“Saat di Aston Villa, saya banyak bermain di posisi yang lebih dalam. Sekarang saya senang bisa kembali ke posisi tinggi, mencetak gol, memberi assist, dan berada di tempat yang membuat saya bahagia,” jelas Nobbs. Ia merasa percikan permainannya yang sempat hilang kini kembali terasa. Dengan kondisi seperti ini, kontribusinya untuk membawa Newcastle promosi akan sangat menentukan.
Dengan target yang jelas, tambahan pemain berkualitas, dan kepercayaan diri yang kembali tumbuh, Newcastle memiliki modal kuat untuk bersaing memperebutkan tiket promosi. Bagi Nobbs, memenangkan promosi bersama Newcastle akan menjadi jawaban atas mimpi yang sudah lama ia pendam sejak kecil di timur laut. Ia ingin membuktikan bahwa kawasan itu pantas kembali memiliki wakil di WSL.
Kini semua tinggal pembuktian di lapangan. Musim baru akan menjadi ujian nyata sejauh mana ambisi Newcastle dan Nobbs bisa diwujudkan. Jika berhasil, nama timur laut akan kembali bersinar di panggung tertinggi sepak bola putri Inggris.
Hasil Liga Skotlandia akhir pekan ini menyajikan kejutan besar di Ibrox. Rangers harus mengakui keunggulan Hibernian dengan skor 1-2 dalam laga yang menjadi debut kandang Derek McInnes sebagai manajer. Kekalahan ini terasa makin pahit karena striker Youssef Chermiti harus meninggalkan lapangan dengan tandu akibat cedera.
Hasil ini membuat posisi Rangers di klasemen awal musim semakin tidak nyaman. Celtic dan St Mirren sama-sama mengantongi enam poin dari dua pertandingan, sedangkan Rangers tertinggal lima poin setelah tiga laga tanpa kemenangan. Di laga lain, Celtic tampil perkasa dengan menghajar Kilmarnock 5-1 di kandang lawan, sementara Hearts akhirnya memetik kemenangan perdana musim ini.
Rangers 1-2 Hibernian: Debut Kandang McInnes Berakhir Buruk
Tim asuhan David Gray unggul lebih dulu pada menit ke-12 melalui penalti Josh Campbell. Wasit yang dibantu video assistant referee (VAR) menilai bek Rangers, Vanja Dragojevic, melanggar Jason Kerr di kotak penalti. Dragojevic baru pertama kali tampil sebagai starter bagi Rangers setelah didatangkan dari Partizan Belgrade.
Kabar buruk datang sebelum turun minum ketika Chermiti mengalami cedera dan harus digotong keluar lapangan. Padahal, penyerang itu sebelumnya menjadi target Galatasaray dengan tawaran yang dilaporkan mencapai rekor klub sebesar 22 juta poundsterling, kendati tawaran tersebut gagal. Kondisi Chermiti pun menjadi sorotan utama setelah pertandingan usai.
Rangers terus menekan sepanjang babak kedua dan akhirnya menyamakan kedudukan pada menit ke-85. Miguel Chaiwa, bek Hibernian, tidak sengaja mengarahkan bola ke gawang sendiri melewati kiper Raphael Sallinger. Namun, di menit ketiga waktu tambahan, pemain pengganti Callum Wright melepaskan tembakan ke sudut jauh gawang dan memastikan kemenangan menakjubkan bagi tim tamu.
Latar Belakang: Cedera Chermiti dan Tekanan di Ibrox
Kekalahan ini merupakan pukulan telak bagi McInnes yang masih mencari kemenangan pertamanya setelah tiga laga menukangi Rangers. Sejak duduk di kursi panas Ibrox, ia belum sekalipun merasakan hasil positif. Tekanan untuk segera bangkit kini semakin besar, terlebih dengan hasil buruk di laga kandang pertamanya.
Cedera Chermiti menambah deretan masalah yang harus dihadapi Rangers. Galatasaray dikabarkan mengajukan tawaran sebesar 22 juta poundsterling, angka yang disebut sebagai rekor transfer klub, tetapi tawaran itu gagal. Kini Rangers berpotensi kehilangan striker andalannya untuk beberapa laga ke depan, di saat tim sedang membutuhkan poin.
Celtic Pesta Gol 5-1 ke Kilmarnock, Høgh Cetak Hat-trick
Celtic tampil tanpa manajer Martin O’Neill dalam laga tandang melawan Kilmarnock di Rugby Park. O’Neill absen setelah menjalani prosedur kecil di rumah sakit, sebagaimana diumumkan klub awal pekan ini. Meski begitu, tim asal Glasgow itu tetap tampil trengginas dan menang telak 5-1.
Kasper Høgh menjadi bintang dalam laga ini. Penyerang asal Denmark yang bergabung dari Bodø/Glimt pada Juli itu mencetak hat-trick pertamanya untuk Celtic, sekaligus gol-gol pertamanya di klub ini. Ia bahkan hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit untuk membuka keunggulan lewat sundulan di tiang belakang memanfaatkan umpan silang Arne Engels.
Høgh menggandakan keunggulan pada menit ke-33. Gol itu berawal dari Camilo Durán yang merebut umpan keluar dari Johnly Yfeko, lalu bekerja sama dengan Benjamin Nygren sebelum mengirim bola kepada Høgh di sisi kiri kotak penalti. Penyelesaian akhir yang apik dari Høgh membuat Celtic unggul 2-0.
Dua menit kemudian, Høgh melengkapi hat-trick-nya. Nygren melepaskan bola ke kanan untuk Durán, yang umpan silangnya membuat kiper Kilmarnock Max Stryjek keluar dari posisinya. Høgh tinggal menyundul bola ke gawang kosong untuk mengubah skor menjadi 3-0 sebelum turun minum.
O’Neill Absen karena Prosedur Medis, Kondisinya Membaik
Tidak ada rincian yang diberikan mengenai prosedur yang dijalani O’Neill. Pelatih asal Irlandia Utara itu sebelumnya memimpin Celtic meraih kemenangan atas Dundee di laga perdana musim ini. Asisten manajer Shaun Maloney memastikan kondisi O’Neill terus membaik jelang pertandingan melawan Kilmarnock.
“Kondisinya makin baik lagi,” kata Maloney kepada Sky Sports. “Dia datang ke hotel tim dan berbicara dengan para pemain, tapi dia butuh beberapa hari tambahan.” Perkataan Maloney itu terbukti, karena performa anak asuhnya di Rugby Park berjalan luar biasa meski tanpa kehadiran sang manajer di bangku cadangan.
Di babak kedua, Celtic semakin menjauh setelah Stryjek melakukan kesalahan fatal. Umpan keluar dari pertahanan justru jatuh ke kaki Nygren di depan gawang, dan tembakan Nygren menjebol pojok atas gawang. Skor pun berubah menjadi 4-0 bagi tim tamu.
Kilmarnock sempat memperkecil ketertinggalan melalui Michael Schjønning-Larsen pada menit ke-56 setelah membangun serangan yang rapi. Namun, Celtic kembali menjauh 15 menit menjelang akhir laga. Luke McCowan, yang baru saja masuk, melepaskan voli jarak dekat setelah tuan rumah gagal membersihkan bola dari situasi sepak pojok.
Hearts Raih Kemenangan Perdana, Vrancken Lega
Hearts akhirnya merasakan manisnya kemenangan di bawah asuhan Wouter Vrancken. Skuad baru asuhan Vrancken tampil memukau dengan menghancurkan Dundee United 4-0 di Tynecastle dalam laga kandang pertama mereka musim ini. Sebelumnya, pelatih asal Belgia itu menelan empat kekalahan beruntun sejak menggantikan Derek McInnes pada Juni—tiga di antaranya di kompetisi Eropa.
Tiga rekrutan musim panas menjadi pahlawan kemenangan ini. Tom Renaud, Calvin Miller, dan Josh McPake sama-sama mencetak gol dalam penampilan perdana mereka di liga bersama Hearts. Sementara itu, Cláudio Braga, pemain kunci musim lalu, akhirnya memecah kebuntuan musim ini.
Renaud membuka keunggulan pada menit keempat dengan tembakan keras dari jarak kurang dari 30 yard setelah menerima umpan dari Braga. Beberapa hari sebelumnya, ia juga mencetak gol ke gawang Benfica. Keunggulan Hearts kemudian bertambah melalui penalti Miller setelah VAR melihat Daniel Bennie menjatuhkan Jamie McCart di kotak penalti.
Pada menit ke-56, Braga mencetak gol lewat tembakan rendah dari sudut sempit 12 yard setelah diberi umpan oleh Sabah Kerjota. McPake kemudian menutup pesta dengan gol pertamanya untuk Hearts, sekaligus penampilan pertamanya sebagai starter di kompetisi. Ia menuntaskan peluang dengan klinis setelah bermain satu-dua dengan Braga di sisi kiri kotak penalti.
Hasil Liga Skotlandia Lainnya: Imbang, Kemenangan Dundee dan St Mirren
Selain tiga laga besar di atas, ada beberapa pertandingan lain yang turut mewarnai pekan ini di Liga Skotlandia. Pada Minggu, Motherwell bermain imbang tanpa gol melawan Falkirk di kandang sendiri. Sementara pada Sabtu, Dundee sukses menundukkan Aberdeen dan St Mirren meraih kemenangan tipis.
Motherwell 0-0 Falkirk (Minggu)
Dundee 2-0 Aberdeen (Sabtu) — gol Joe Westley dan Joe Bevan
St Mirren 1-0 St Johnstone (Sabtu) — penalti Killian Phillips
Dampak bagi Persaingan di Papan Atas Liga Skotlandia
Kekalahan dari Hibernian membuat Rangers semakin tertekan di awal musim. Dengan Celtic dan St Mirren sama-sama mengoleksi enam poin dari dua laga, pasukan McInnes tertinggal lima poin dan belum merasakan kemenangan. Jarak ini tentu masih bisa dikejar, tetapi jika tidak segera diatasi, Rangers berisiko kehilangan momentum dalam perburuan gelar.
Di sisi lain, kemenangan telak Celtic menegaskan status mereka sebagai kandidat terkuat juara. Kemampuan bermain tanpa O’Neill di pinggir lapangan juga menunjukkan kedalaman skuad yang dimiliki tim asal Glasgow itu. Adapun Hearts, kemenangan 4-0 ini menjadi modal berharga bagi Vrancken untuk membangun kepercayaan diri timnya ke depan.
Pekan kedua Liga Skotlandia musim ini jelas menyajikan banyak drama, mulai dari kekalahan mengejutkan Rangers hingga pesta gol Celtic dan kebangkitan Hearts. Rangers wajib segera berbenah jika tidak ingin semakin tertinggal dari pesaingnya. Laga-laga berikutnya akan menjadi ujian nyata bagi McInnes untuk membuktikan bahwa timnya masih layak diperhitungkan.
Jorge Messi meninggal dunia pada usia 68 tahun di sebuah klinik medis di Rosario, Argentina. Kabar duka ini disampaikan oleh keluarga setelah Lionel Messi kehilangan sosok ayah sekaligus agennya yang selama ini berperan besar dalam kariernya. Jorge dikabarkan telah menjalani perawatan karena penyakit yang berkepanjangan sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Kepergian Jorge Messi menjadi kehilangan besar, bukan hanya bagi keluarga besarnya, tetapi juga bagi dunia sepak bola. Ia dikenal sebagai sosok yang setia mendampingi Lionel sejak kecil, dari masa-masa awal di Barcelona hingga sang putra menjadi salah satu pemain terbaik sepanjang masa. Tak heran, kabar duka ini langsung menuai perhatian luas dari penggemar dan insan sepak bola dunia.
Kronologi Terakhir Sebelum Kepergian Jorge Messi
Menurut pengumuman keluarga, Jorge Messi menghabiskan bulan-bulan terakhir hidupnya dengan bergantian menjalani perawatan di pusat medis dan beristirahat di rumahnya di Rosario. Ia selalu didampingi oleh sang istri, Celia Cuccittini, serta tiga anaknya, Rodrigo, Matías, dan María Sol. Meski jenis penyakitnya tidak dijelaskan secara rinci, kondisinya disebut sudah menurun dalam beberapa bulan terakhir.
Lionel Messi sempat menghabiskan waktu bersama ayahnya setelah Piala Dunia. Setelah itu, ia kembali bergabung dengan Inter Miami dan mulai tampil lagi sekitar sepekan lalu. Kini, Inter Miami dijadwalkan menjamu Monterrey pada Sabtu dalam ajang Leagues Cup 2026, tetapi klub belum mengumumkan apakah Messi akan diturunkan.
Reaksi Emosional Messi dan Spekulasi Kondisi Sang Ayah
Situasi pribadi Lionel Messi memang sempat menjadi sorotan publik beberapa waktu lalu. Saat Argentina mengalahkan Aljazair 3-0 di Piala Dunia, Messi menangis saat merayakan gol pertamanya di laga pembuka timnya. Ia kemudian mengaku sedang menghadapi situasi pribadi yang sulit, dan menjelaskan bahwa air matanya muncul karena sesuatu yang tidak berhubungan dengan sepak bola.
Spekulasi mulai beredar bahwa reaksi emosional Messi saat Argentina menang di babak 16 besar atas Mesir sedikit banyak disebabkan oleh kondisi sang ayah yang semakin memburuk. Tak lama berselang, keluarga mengeluarkan pernyataan resmi mengenai situasi kesehatan Jorge Messi. Dalam pernyataan itu, publik diberi tahu bahwa Jorge sedang menjalani perawatan medis.
Belasungkawa dari Newell’s Old Boys dan AFA
Newell’s Old Boys, klub yang pernah menaungi Lionel Messi di masa muda, menyampaikan kabar duka ini lewat unggahan media sosial. Dalam unggahan itu disebutkan bahwa Jorge telah menjalani perawatan selama beberapa bulan terakhir karena penyakit yang tidak disebutkan spesifik. Klub tersebut menggambarkan Jorge sebagai ‘pilar dan sosok yang, dengan visi, ketelitian, dan kasih sayang, mendukung karier pemain terbaik sepanjang masa bersama istrinya, Celia Cuccittini’.
Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) juga menyampaikan belasungkawa melalui pernyataan resmi. AFA mengungkapkan solidaritasnya kepada keluarga besar Messi di tengah masa yang berat. “Dari sini, kami berdiri bersama seluruh keluarga di masa sulit ini dan mengirimkan pelukan yang paling tulus, hangat, dan penuh kasih. Kekuatan untuk kalian semua,” demikian bunyi pernyataan AFA.
Peran Jorge Messi dalam Karier Lionel Messi
Jorge Messi bukan sekadar ayah dari seorang pesepak bola hebat. Ia juga menjadi tokoh yang mendampingi Lionel sejak kecil, termasuk ketika Lionel mulai menapaki karier di Barcelona. Selama bertahun-tahun, Jorge berperan sebagai perwakilan sekaligus agen yang mengurus berbagai kebutuhan karier sang putra.
Hubungan ayah dan anak itu tampak sangat dekat. Lionel sendiri pernah mengungkapkan betapa besar pengaruh Jorge dalam hidupnya. “Saya selalu membutuhkan persetujuan ayah saya, sejak saya masih kecil. Setelah setiap pertandingan, saya bertanya kepadanya apa pendapatnya tentang permainan saya,” ujar Lionel.
Warisan Jorge Messi dan Duka yang Mendalam
Kepergian Jorge Messi meninggalkan duka yang mendalam, terutama bagi Lionel yang selama ini menjadikan ayahnya sebagai tempat bergantung. Meski sudah meraih berbagai prestasi di dunia sepak bola, sosok ayah tetaplah figur yang tak tergantikan. Kini, publik hanya bisa memberikan doa dan dukungan untuk keluarga besar Messi.
Inter Miami sendiri belum mengumumkan apakah Lionel akan tampil saat menghadapi Monterrey akhir pekan ini. Keputusan itu tentu akan menunggu kondisi psikologis sang pemain setelah kehilangan orang terdekatnya. Yang jelas, warisan Jorge sebagai ayah sekaligus pilar karier Lionel Messi akan selalu dikenang.
Kabar terbaru seputar transfer Rodri akhirnya terungkap: Manchester City menolak tawaran pembuka Barcelona yang bernilai £38,5 juta atau sekitar €45 juta. Klub asal Manchester itu mematok harga minimal £60 juta sebelum bersedia melepas kapten timnas Spanyol yang baru saja mengangkat trofi Piala Dunia. Penolakan ini menegaskan bahwa City tidak akan melepas Rodri dengan harga murah di bursa transfer musim panas ini.
Isu transfer Rodri ini semakin menarik karena Barcelona disebut-sebut sebagai tujuan utama pemain berusia 30 tahun itu setelah pembicaraan dengan Real Madrid gagal pada pekan ini. Rodri yang kini berada di tahun terakhir kontraknya bersama City dikabarkan telah menyetujui persyaratan pribadi dengan juara bertahan La Liga tersebut. Keputusan untuk kembali ke Spanyol pun diambil setelah kepergian Pep Guardiola dari kursi manajer City, perubahan besar yang ikut menentukan arah karier sang gelandang.
Rincian Tawaran Awal dan Sikap Manchester City
Barcelona mengajukan tawaran awal sebesar £38,5 juta (€45 juta) untuk memboyong Rodri, tetapi tawaran itu langsung ditolak oleh Manchester City. The Citizens bersikeras bahwa mereka hanya akan melepas gelandang andalannya jika ada klub yang berani membayar minimal £60 juta. Angka tersebut menunjukkan bahwa City masih menilai Rodri sebagai aset berharga yang tidak bisa dilepas dengan harga murah.
Sejak didatangkan dari Atlético Madrid pada 2019, Rodri memang menjadi salah satu pilar penting di lini tengah Manchester City. Ia bahkan dikabarkan telah menolak tawaran perpanjangan kontrak dengan nilai yang sangat besar dari pihak klub. Penolakan itu menjadi sinyal awal bahwa Rodri ingin mencari pengalaman baru di tempat lain.
Kendati begitu, City diyakini tetap pada pendiriannya dan tidak akan memberikan izin kepada Rodri untuk pergi di bawah harga yang mereka tetapkan. Sikap tegas ini wajar mengingat status Rodri sebagai kapten timnas Spanyol yang baru saja menjadi juara Piala Dunia. City tentu tidak ingin kehilangan pemain sekaliber Rodri tanpa mendapatkan kompensasi yang sepadan.
Kronologi: Real Madrid Gagal, Barcelona Muncul
Perjalanan menuju potensi kepindahan Rodri sebenarnya bermula dari pembicaraan dengan Real Madrid. Namun, negosiasi dengan klub asal ibu kota Spanyol itu justru gagal pada pekan ini. Kegagalan tersebut kemudian membuka jalan bagi Barcelona untuk masuk dan menjadi tujuan yang paling diminati Rodri.
Situasi semakin jelas ketika Rodri dikabarkan telah sepakat secara personal dengan Barcelona, sang juara bertahan La Liga. Ia juga disebut telah berbicara langsung dengan manajer Hansi Flick dan direktur olahraga Deco pada Rabu pekan ini. Pembicaraan itu menjadi langkah konkret yang memperkuat spekulasi bahwa Rodri serius ingin pindah ke Camp Nou.
Keyakinan Barcelona terhadap Rodri pun bukan tanpa alasan. Sebulan yang lalu, pemain berusia 30 tahun itu baru saja memenangi Bola Emas Piala Dunia sebagai pemain terbaik turnamen. Performa impresif di panggung tertinggi sepak bola itulah yang membuat namanya begitu diminati klub-klub besar Eropa.
Barcelona Terus Berjuang demi Transfer Rodri
Tekad Barcelona untuk mengamankan transfer Rodri semakin menguat setelah salah satu gelandang andalannya, Frenkie de Jong, dipastikan absen selama beberapa bulan akibat cedera lutut. Kehilangan de Jong menjadi pukulan berat bagi lini tengah Barcelona yang tengah berbenah. Rodri pun dinilai sebagai pengganti paling ideal untuk mengisi kekosongan tersebut.
Situasi ini membuat Barcelona tak mau tinggal diam dan terus melanjutkan negosiasi demi mewujudkan transfer Rodri ke Camp Nou. Mereka berharap bisa mencapai kompromi agar kesepakatan tercapai tanpa harus membayar penuh harga yang diminta City. Namun, perlu dicatat bahwa Rodri sendiri baru menjalani operasi kecil di bagian punggung dan diperkirakan akan absen di sebagian besar program pramusim City.
Kendati begitu, Barcelona tampaknya tidak mempermasalahkan kondisi kebugaran Rodri yang sedang dalam masa pemulihan. Prioritas utama mereka adalah mengamankan tanda tangan sang gelandang lebih awal sebelum persaingan semakin ketat. Dengan dukungan kesepakatan personal dari pihak pemain, jalan menuju Camp Nou sebenarnya sudah terbuka, tinggal menunggu kesepakatan antarklub.
Dampak bagi Manchester City: Mencari Pengganti Rodri
Manchester City sebenarnya tidak tinggal diam di bursa transfer musim panas ini. Mereka baru saja mendatangkan Elliot Anderson dari Nottingham Forest dengan biaya mencapai £116 juta. Selain itu, City masih bernegosiasi dengan Lille untuk merekrut gelandang asal Maroko, Ayyoub Bouaddi, yang harganya bisa tembus hingga £80 juta.
Jika Rodri benar-benar hengkang, City dikabarkan akan mencari pengganti yang lebih berpengalaman untuk menjaga kualitas lini tengahnya. Salah satu nama yang masuk dalam daftar pertimbangan adalah gelandang Chelsea, Enzo Fernández. Pemain berusia 25 tahun itu dinilai memiliki profil yang sesuai untuk mengisi peran yang ditinggalkan Rodri.
Namun, perburuan Enzo Fernández diprediksi tidak akan berjalan mudah. Manchester City harus bersaing dengan Real Madrid yang juga dikabarkan menginginkan pemain asal Argentina tersebut. Keputusan akhir pun akan sangat bergantung pada apakah Rodri benar-benar hengkang atau tetap bertahan di Etihad.
Real Madrid Juga Ikut dalam Perburuan Enzo Fernández
Real Madrid menjadi salah satu pesaing serius dalam perburuan Enzo Fernández. Pelatih Real Madrid, José Mourinho, dikabarkan tidak menerima dengan baik kabar bahwa timnya didahului oleh rival besarnya. Bahkan, laporan dari Spanyol menyebutkan bahwa pria berusia 63 tahun itu merasa kecewa, terutama karena rekrutan gelandang tengah adalah prioritas utamanya sejak kembali menangani klub untuk periode kedua di Santiago Bernabéu.
Real Madrid sendiri sejauh ini sudah cukup sibuk di bursa transfer dengan mendatangkan pemain sayap Yan Diomande seharga £115 juta. Selain itu, mereka juga memboyong Marc Cucurella, Bernardo Silva, Ibrahima Konaté, Denzel Dumfries, dan Carlos Espí. Dengan banyaknya pengeluaran tersebut, Real kemungkinan perlu menyeimbangkan keuangan dengan menjual salah satu dari Aurélien Tchouaméni atau Eduardo Camavinga jika ingin memburu Fernández.
Langkah itu tentu bukan keputusan yang mudah mengingat Tchouaméni dan Camavinga sama-sama menjadi bagian penting di lini tengah Real Madrid. Namun, jika ambisi mendatangkan Enzo Fernández benar-benar serius, pengorbanan tersebut mungkin harus ditempuh. Hingga saat ini, belum ada kejelasan arah dan situasi bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan negosiasi.
Kabar Transfer Lain: Crystal Palace Resmi Rekrut Tomiyasu
Di tengah ramainya kabar transfer Rodri, Crystal Palace juga punya berita menarik untuk para pendukungnya. Klub asal London itu resmi mengonfirmasi penandatanganan Takehiro Tomiyasu setelah bek asal Jepang tersebut menjalani masa percobaan yang sukses. Tomiyasu, yang sebelumnya memperkuat Arsenal, telah berlatih bersama Palace selama pramusim dan berhasil meyakinkan pihak klub.
Alessia Russo mengaku menjalani momen terbaik dalam hidupnya saat parade kemenangan Arsenal di jalan-jalan London utara. Berdiri di depan bus dengan lengan bertumpu pada palang, mengenakan kacamata hitam, dan memegang minuman di satu tangan, penyerang Arsenal itu ikut bernyanyi dan bersorak bersama para penggemar. Parade sepanjang sembilan kilometer yang dipenuhi asap merah itu merayakan keberhasilan tim pria Arsenal meraih gelar Premier League sekaligus kesuksesan tim wanita Arsenal di Champions Cup.
LONDON COLNEY, ENGLAND – SEPTEMBER 05: Alessia Russo of Arsenal during the Arsenal Women’s Press Conference at Sobha Realty Training Centre on September 05, 2025 in London Colney, England. (Photo by David Price/Arsenal FC via Getty Images)
Meski banyak yang menganggapnya sebagai pendukung setia Arsenal sejak kecil, Russo sebenarnya bukanlah “childhood Gooner”, julukan yang kerap menjadi bahan lelucon di kalangan penggemar. Lelucon itu semakin menguat ketika foto keluarga Russo kecil yang memegang Piala FA diedit, dari awalnya mengenakan seragam Manchester United menjadi seragam Arsenal. Namun kini, pemain berusia 27 tahun itu dengan cepat menjelma menjadi penggemar dewasa yang sungguh-sungguh mencintai klubnya.
Pengalaman Tak Terlupakan di Parade Kemenangan
Russo menggambarkan parade tersebut sebagai salah satu pengalaman paling luar biasa yang pernah ia rasakan. Ia menikmati setiap momen, mulai dari atmosfer suporter hingga keberhasilan tim pria Arsenal yang telah bekerja keras selama bertahun-tahun. “Saya menikmati hidup saya hari itu,” ujarnya. “Itu benar-benar hari yang sangat istimewa.”
Satu hal yang membuat momen itu semakin bermakna adalah kehadiran rekan-rekan setimnya, Lotte Wubben-Moy dan Leah Williamson, yang memang penggemar berat Arsenal sejak lama. Russo mengaku bahwa bergabung dengan Arsenal membuatnya ikut menyerap kecintaan terhadap klub tersebut. “Saat Anda datang ke Arsenal, Anda mengambil bagian dari klub ini dan mulai memahami serta menyerap kecintaan mereka kepada Arsenal,” katanya.
Russo juga mengungkapkan bahwa momen seperti inilah yang akan selalu terkenang dalam kariernya. “Anda memilih momen ketika memenangkan trofi sebagai yang utama dalam karier, tapi parade ini pasti akan selalu menonjol bagi saya,” ucapnya. Suasana parade yang meriah, dengan orang-orang di setiap balkon, atap, hingga lampu lalu lintas, menunjukkan betapa besarnya kecintaan publik terhadap Arsenal.
Lelucon “Childhood Gooner” yang Kini Menjadi Kenyataan
Lelucon tentang Russo sebagai penggemar Arsenal sejak kecil berawal dari unggahan foto keluarga yang memperlihatkan Russo kecil tengah memegang Piala FA. Foto tersebut kemudian diedit oleh penggemar sehingga seragam Manchester United yang dikenakan Russo berubah menjadi seragam Arsenal. Hal ini pun menjadi bahan candaan yang terus berkembang di kalangan suporter.
Meskipun bukan pendukung Arsenal sejak kecil, Russo mengaku mustahil untuk tidak ikut mendukung klub yang ia bela sekarang. “Sejak saya bergabung dengan klub dan melihat orang-orang di sekeliling tempat ini, mustahil untuk tidak menjadi bagian dari Arsenal dan merasa bahwa saya mendukung Arsenal,” tuturnya. Ia bahkan menyatakan dukungan penuhnya kepada Arsenal dalam berbagai hal, termasuk saat merayakan keberhasilan tim pria meraih gelar Premier League.
Kontras dengan parade-parade Arsenal pada era 1990-an dan awal 2000-an, parade tahun ini dihadiri begitu banyak anak perempuan dari berbagai usia. Fenomena ini menunjukkan perkembangan pesat minat terhadap sepak bola wanita dalam beberapa tahun terakhir. Russo sendiri sangat peduli dengan tumbuhnya generasi baru yang tertarik menonton dan bermain sepak bola.
Fondasi Russo dan Inisiatif Kick On untuk Sepak Bola Wanita
Kepedulian Alessia Russo terhadap perkembangan sepak bola wanita mendorongnya meluncurkan yayasan sendiri pada tahun ini. Ia juga membantu meluncurkan tahun kelima program Kick On dari Starling Bank, sebuah inisiatif yang mempertemukan bisnis lokal dengan tim sepak bola putri yang membutuhkan sponsor. Program ini mensubsidi biaya sponsor di bagian depan jersey tim-tim tersebut.
Starling Bank melakukan survei terhadap 1.000 pemain wanita dewasa, 1.010 pemain wanita berusia 11-17 tahun, 501 pemimpin usaha kecil dan menengah, serta 1.092 pelatih sepak bola akar rumput. Hasilnya, hampir seluruh klub sepak bola wanita akar rumput, yakni 97 persen, menyatakan tim mereka membutuhkan dana tambahan. Akibatnya, kesempatan bagi anak-anak perempuan untuk bermain sepak bola ikut terdampak.
Sebanyak 76 persen pemain wanita mengaku akan terpaksa berhenti dari tim atau meninggalkan olahraga ini sama sekali jika pendanaan tambahan tidak didapatkan dalam lima tahun ke depan.
Sementara itu, 40 persen pemain wanita menyatakan tim mereka tidak menerima pendanaan sebesar tim pria.
Hampir semua klub akar rumput sepakat bahwa kebutuhan dana menjadi persoalan paling mendesak.
“Statistik itu cukup menyedihkan, sungguh disayangkan mengingat pertumbuhan yang kita lihat dalam sepak bola wanita,” kata Russo. “Selama lima atau enam tahun terakhir, pertumbuhannya sungguh luar biasa, tapi masih ada pekerjaan rumah di akar rumput untuk membangunnya.” Ia menegaskan bahwa fondasi di tingkat akar rumput harus diperkuat agar pertumbuhan yang sudah terjadi tidak sia-sia.
Misi Russo: Jangan Sampai Kehilangan Bintang Masa Depan
Risiko terbesar dari minimnya pendanaan adalah hilangnya momentum sepak bola wanita dan gagalnya menarik calon pemain bintang ke jalur pembinaan. Russo menegaskan bahwa sepak bola tidak boleh kehilangan generasi penerus seperti Leah Williamson atau Lotte Wubben-Moy hanya karena tidak ada tim lokal atau tim yang mereka ikuti bubar. Menurutnya, masalah ini seharusnya mudah diatasi karena tim tidak membutuhkan banyak hal, namun kenyataannya masalah ini masih terus berlanjut.
Russo sendiri merupakan produk dari perjalanan sepak bola akar rumput yang panjang. Ia mengaku masih berteman dengan banyak orang yang ditemuinya selama meniti karier dari bawah. “Jika bisnis lokal bisa berinvestasi pada satu tim, siapa tahu Anda bisa membantu melahirkan bintang yang kariernya luar biasa dan akan selalu mengingat Anda sebagai bagian dari perjalanan itu,” ujarnya.
Lebih dari sekadar investasi finansial, keterlibatan bisnis lokal dalam tim putri memiliki makna yang lebih dalam. Russo menekankan bahwa para pendukung bisa memiliki peran dalam bagian inti perjalanan hidup anak-anak perempuan tersebut. “Ada lebih dari sekadar investasi, yaitu Anda bisa memiliki suara dalam bagian inti perjalanan dan kehidupan anak-anak perempuan ini,” katanya.
Musim Panas Langka: Waktu Istirahat dan Menjadi Penggemar
Tanpa turnamen besar internasional wanita pada musim panas ini, Russo menikmati liburan musim panas yang langka. Ia mengaku sangat membutuhkan waktu istirahat setelah beberapa tahun terakhir dihiasi banyak pertandingan dan turnamen. “Penting bagi saya untuk benar-benar punya waktu istirahat yang layak,” ujarnya. “Selama beberapa tahun terakhir, menit bermain dan turnamen terus bertambah, jadi saya perlu menjaga tubuh dan membuat diri saya berada di tempat yang baik secara mental.”
Russo mematikan aktivitasnya selama sekitar dua setengah minggu dan menghabiskan waktu bersama teman serta keluarga. Meski demikian, ia mengaku sudah siap kembali berlatih di akhir masa istirahatnya. “Saya cukup menikmati latihan sendiri selama musim panas, Anda jadi tahu rutinitas dan kebiasaan terbaik Anda,” katanya.
Di sela-sela istirahatnya, Russo juga sempat menonton pertandingan Inggris melawan Panama di New York dan merasakan atmosfer Piala Dunia sebagai penggemar biasa. Ia juga menghadiri pesta lajang dan pernikahan rekan setimnya di timnas Inggris, Ella Toone. Momen-momen ini memberinya kesempatan untuk menjadi perempuan berusia 27 tahun yang normal, pergi berlibur, dan menikmati hidup.
Musim 2025-26 dan Target Trofi bersama Arsenal
Russo menjalani musim 2025-26 yang gemilang, dan banyak pihak menilai permainannya meningkat satu level baik di level klub maupun timnas. Namun, ia menegaskan bahwa dirinya tetap menilai kesuksesan dari trofi yang dimenangkan tim. “Saya senang dengan musim saya bersama Arsenal dan Inggris dari sudut pandang pribadi, tapi pada akhirnya saya akan selalu menilai dari trofi yang kami menangkan,” ucapnya.
Arsenal disebutnya telah belajar banyak dalam beberapa tahun terakhir dan kini sangat lapar akan musim baru. Pelatih Renée Slegers telah menetapkan standar tinggi selama pramusim, dan tim memiliki tujuh pemain baru yang siap bersaing. “Kami ingin melakukan segalanya untuk menjadi tim yang paling mampu memenangkan WSL,” tegas Russo.
Dengan skuad yang siap melaju dan persaingan internal yang ketat, Russo merasa bahagia tetapi tidak berpuas diri. Ia ingin terus mendorong dirinya bersama Arsenal dan Inggris untuk memenangkan lebih banyak trofi. “Saya merasa bahagia, tapi sekarang saya ingin terus maju bersama Arsenal dan Inggris dan memenangkan beberapa trofi,” pungkasnya.
Dari parade kemenangan yang tak terlupakan hingga perjuangannya di akar rumput, Alessia Russo telah membuktikan bahwa cintanya kepada Arsenal lahir dari pengalaman nyata. Kini ia tidak hanya menjadi bagian dari klub raksasa London utara, tetapi juga menjadi penggerak perubahan bagi generasi berikutnya. Dengan semangat yang sama seperti saat bersorak di atas bus parade, Russo siap menghadapi musim baru bersama Arsenal.
Perjalanan Russo menunjukkan bahwa cinta kepada sebuah klub bisa tumbuh dari pengalaman langsung, bukan sekadar warisan masa kecil. Kecintaannya pada Arsenal kini berpadu dengan misi besarnya untuk memastikan sepak bola wanita tumbuh kuat dari akar rumput. Dengan target trofi di depan mata, kisah Russo bersama Arsenal akan terus menjadi salah satu narasi paling menarik di sepak bola wanita Inggris.
Lini Belakang Manchester United: Campuran Potensi dan Risiko
Lini belakang Manchester United menjadi sorotan utama menjelang musim 2025/26. Michael Carrick, yang akan menjalani musim penuh pertamanya sebagai manajer, memiliki lima bek tengah sekaligus: Leny Yoro, Ayden Heaven, Harry Maguire, Matthijs de Ligt, dan Lisandro Martínez. Di atas kertas, kombinasi pemain muda berbakat dan senior berpengalaman terdengar ideal. Namun, jika ditelisik lebih dalam, ada sejumlah tanda tanya besar yang bisa menggoyahkan soliditas pertahanan Setan Merah.
Baik Yoro (20 tahun) maupun Heaven (19 tahun) masih berada di tahap potensial, belum menjadi batu karang andalan. Sementara Maguire (33 tahun) mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan kecepatan, dan duet De Ligt–Martínez justru rentan cedera. Dalam situasi seperti ini, Carrick perlu memutar otak agar lini belakang Manchester United tidak menjadi lubang kelemahan yang mudah dieksploitasi lawan.
Kinerja Musim Lalu Jadi Tolok Ukur
Saat Carrick mengambil alih pada Januari lalu setelah pemecatan Ruben Amorim, ia hanya menangani 17 pertandingan liga—tanpa beban kompetisi lain. Hasilnya cukup impresif: United naik dari posisi ketujuh ke posisi tiga, dengan hanya dua kekalahan. Namun, musim baru ini benar-benar ujian sesungguhnya. Carrick harus memimpin United di empat ajang sekaligus: Premier League, FA Cup, Carabao Cup, dan Liga Champions. Menjadi tim yang sulit dikalahkan menjadi syarat mutlak, dan itu sangat bergantung pada performa para bek tengah.
Profil Lima Bek Tengah: Kelebihan dan Kekurangan
Leny Yoro – Butuh Konsistensi
Bek asal Prancis berusia 20 tahun ini didatangkan dari Lille seharga £52 juta pada Juli 2024. Dengan 66 penampilan, Yoro adalah yang paling senior di antara dua pemain muda. Namun, ia kerap tampil ringan dalam duel fisik dan masih rentan melakukan kesalahan individu. Postur 6 kaki 3 inci dan kecepatannya jelas aset, tapi ia tak lagi bisa berlindung di balik kata “adaptasi”. Musim ini harus menjadi musim pembuktian bagi Yoro.
Ayden Heaven – Muda dan Bertenaga
Heaven direkrut dari Arsenal pada Februari 2025 dengan biaya kecil. Ia membuat 11 start di liga musim lalu. Dibekali teknik apik, kecepatan pemulihan, dan tubuh lebih kekar (6 kaki 2 inci), Heaven sadar ia harus bersabar. “Saya masih muda dan harus menunggu kesempatan,” ujarnya. Namun, dengan kondisi cedera beberapa pemain senior, kesempatan itu bisa datang lebih cepat dari perkiraan.
Harry Maguire – Pengalaman di Usia Senja
Pada usia 33 tahun, Maguire masih mengandalkan kecerdasan dan naluri bertahan. Namun, kecepatan satu kakinya mulai terlihat. Ia ditinggalkan Thomas Tuchel saat skuad Inggris untuk Piala Dunia, tetapi kepemimpinan mantan kapten United itu tetap berharga. Maguire diprediksi menjadi pilihan utama Carrick di awal musim, berduet dengan Martínez.
Lisandro Martínez – “Si Jagal” yang Rapuh
Martínez, 28 tahun, berada di puncak karier. Pep Guardiola pernah menyebutnya sebagai salah satu dari lima bek tengah terbaik dunia. Namun, cedera menjadi momok. Ia harus ditarik keluar sebelum turun minum pada final Piala Dunia 2026 karena masalah otot. Kebugaran lini belakang MU untuk laga pembuka melawan Hull masih diragukan. Jika Martínez kerap absen, Carrick kehilangan jaminan kualitas di jantung pertahanan.
Matthijs de Ligt – Juara tapi Cedera Parah
De Ligt (26 tahun) belum bermain sejak November 2025 karena cedera punggung yang akhirnya dioperasi pada Mei lalu. Ia memiliki gelar juara liga di Belanda (Ajax), Italia (Juventus), dan Jerman (Bayern Munich), tapi masalah kebugaran membuatnya sangat riskan. Targetnya kembali pada awal musim, tetapi tanpa jaminan performa langsung pasca operasi.
Perbandingan dengan Rival: Jendela Transfer yang Sepi
Kekhawatiran terhadap lini belakang Manchester United diperparah oleh aktivitas bursa transfer yang lesu. Saingan seperti Manchester City (mendatangkan Elliot Anderson £116 juta), Chelsea (Morgan Rogers £117 juta), dan Tottenham (Sandro Tonali £100 juta) mengeluarkan dana besar. Arsenal juga memburu Bruno Guimarães dan Vinícius Júnior. Sebaliknya, United hanya mengaktifkan klausa rilis £35 juta untuk Youri Tielemans (29 tahun) dan mendatangkan Andrey Santos (£48 juta) yang baru 11 starter musim lalu bersama Chelsea. Dengan lima pekan tersisa, peluang menambah pemain masih ada, tetapi saat ini lini belakang Manchester United terlihat rentan dibandingkan tim-tim papan atas lainnya.
Kesimpulan: Ujian Besar bagi Michael Carrick
Carrick memang sukses membawa ketenangan setelah kekacauan era Amorim. Namun, mempertahankan konsistensi selama 38 pertandingan liga plus ajang lain sangat berbeda dengan tugas interim sebelumnya. Dengan kondisi cedera yang mengintai Maguire, Martínez, dan De Ligt, serta pengalaman minim Yoro dan Heaven, lini belakang Manchester United penuh tanda tanya. Jika tidak ada perbaikan signifikan di bursa transfer atau kebangkitan performa dari para pemain yang ada, maka musim ini bisa menjadi ujian terberat bagi Carrick sebagai manajer.
Mengintip Karya Kartun David Squires tentang Piala Dunia
David Squires, kartunis kawakan asal Inggris, kembali menghadirkan pandangan tajam lewat goresan pensilnya. Dalam karyanya yang terbaru, ia menyoroti dua cerita besar dari gelaran Piala Dunia: keberhasilan Timnas Inggris menembus babak perempat final dan kegagalan Amerika Serikat yang harus angkat koper lebih awal. Seperti biasa, kartun David Squires tidak hanya lucu, tetapi juga sarat kritik sosial dan politik. Salah satu elemen yang mencuri perhatian adalah kemunculan figur Donald Trump sebagai simbol keanehan di tengah hiruk-pikuk turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia.
Soccer Football – FIFA World Cup 2026 – Group D – Australia v Turkey – BC Place, Vancouver, Canada – June 13, 2026 Australia’s Patrick Beach, Cameron Burgess, Jackson Irvine and Nishan Velupillay celebrate after the match REUTERS/Lee Smith
Momen Bersejarah Inggris di Meksiko
Salah satu adegan yang diangkat Squires adalah kenangan manis Inggris saat berlaga di Piala Dunia 1970 di Meksiko. Pertandingan klasik melawan Jerman Barat yang berakhir 3-2 tetap hidup dalam ingatan para penggemar sepak bola Inggris. Squires menggambarkan momen itu dengan sentuhan satire, mengingatkan bahwa sepak bola tidak melulu soal hasil akhir, melainkan juga drama dan emosi yang melekat. Kartun David Squires kali ini seolah mengajak kita merenungkan perjalanan panjang tim Garuda Tiga Singa dari era legendaris hingga pencapaian modern mereka.
AS Tersingkir: Antara Harapan dan Realita
Di sisi lain, kartun ini juga menyoroti kegagalan Amerika Serikat yang tersingkir di babak 16 besar. Bagi banyak pengamat, performa AS dianggap mengecewakan karena mereka sebelumnya diunggulkan sebagai kuda hitam. Squires dengan jenaka menggambarkan kekalahan itu sebagai ironi, terutama ketika dibandingkan dengan optimisme berlebihan yang sering muncul dari para komentator Amerika. Kartun David Squires tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan kritik halus terhadap budaya sepak bola di Negeri Paman Sam yang kadang terlalu percaya diri.
Sindiran Terhadap Trump dan Dunia Politik
Yang membuat kartun ini semakin menarik adalah kehadiran figur Donald Trump. Squires menggunakan sosok mantan presiden AS itu sebagai simbol keanehan dan kontroversi yang mewarnai dunia saat ini. Dalam konteks Piala Dunia, Trump digambarkan sebagai “novelty item” yang tidak relevan namun tetap menarik perhatian. Ini adalah ciri khas kartun David Squires yang selalu berhasil menggabungkan olahraga dengan isu-isu sosial dan politik secara cerdas. Pembaca diajak untuk tersenyum sekaligus berpikir tentang bagaimana sepak bola bisa menjadi cermin kondisi masyarakat global.
Mengapa Kartun David Squires Begitu Populer?
David Squires dikenal dengan gaya gambarnya yang unik dan narasi yang tajam. Ia tidak sekadar menggambar momen pertandingan, tetapi juga memberikan konteks budaya dan politik yang memperkaya cerita. Dalam karyanya tentang Piala Dunia ini, ia berhasil menyatukan nostalgia, kritik, dan humor dalam satu bingkai. Bagi para penggemar sepak bola dan pengamat politik, kartun David Squires selalu menjadi bacaan yang dinanti-nantikan karena setiap garisnya memiliki makna mendalam.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Kartun Olahraga
Karya David Squires kali ini membuktikan bahwa kartun bisa menjadi medium yang kuat untuk bercerita. Dari momen klasik Inggris di Meksiko hingga kegagalan AS yang memalukan, serta sindiran terhadap tokoh kontroversial seperti Trump, semuanya disajikan dengan ringan namun bermakna. Jika Anda menyukai sepak bola dan ingin melihat sisi lain dari turnamen ini, kartun David Squires adalah tontonan wajib yang menghibur sekaligus mencerahkan.