Tottenham Menang 2-0 atas Auckland FC, Ukir Sejarah di Selandia Baru
Tottenham Hotspur sukses memulai tur pramusim mereka dengan kemenangan 2-0 atas juara A-League, Auckland FC, di Eden Park, Auckland, Minggu (20/7). Laga yang berlangsung di bawah kondisi lapangan basah ini juga mencatatkan rekor penonton terbesar untuk pertandingan sepak bola pria di Selandia Baru.
Sebanyak 40.112 penonton memadati stadion kebanggaan All Blacks tersebut, melampaui rekor sebelumnya 37.034 penonton yang tercatat saat laga kualifikasi Piala Dunia antara Selandia Baru melawan Peru pada 2017. Para penggemar disuguhkan pertandingan dengan tempo cepat meski kedua tim tidak menurunkan skuad terkuat mereka.
Pelatih De Zerbi Istirahatkan Pemain Kunci
Pelatih Tottenham, Roberto De Zerbi, memilih mengistirahatkan hampir semua pemain utamanya. Namun, tim asal London itu tetap mendominasi jalannya pertandingan. De Zerbi mengaku akan memberikan menit bermain secara bertahap kepada pemain-pemain lainnya selama tur di Australia.
“Ini kesempatan bagi pemain muda,” ujar De Zerbi kepada TVNZ sebelum kick-off. Ia menambahkan bahwa Jan Paul van Hecke yang baru didatangkan dari Brighton serta bek kawakan Andy Robertson (mantan Liverpool) belum mencapai kebugaran penuh. “Setelah perjalanan yang sangat panjang, kami tidak bisa mengambil risiko dengan pemain yang belum siap bermain.”
Rekrutan Baru Tampil
Tottenham telah berbelanja besar-besaran pada bursa musim panas setelah musim lalu nyaris terdegradasi (finis di posisi 17). Namun, satu-satunya rekrutan anyar yang tampil pada laga ini adalah Mateus Fernandes, mantan gelandang West Ham. Fernandes mencetak gol dalam kemenangan 1-0 atas MK Dons beberapa hari sebelumnya di London.
Rekor pembelian klub, Sandro Tonali, tidak dimainkan karena mengalami cedera ringan yang dialaminya sebelum tim berangkat dari London. “Satu masalah kecil,” jelas De Zerbi.
Gol Scarlett dan Richarlison Bawa Kemenangan
Penyerang muda Tottenham, Dane Scarlett, membuka keunggulan pada menit ke-12. Ia memanfaatkan bola muntah hasil tembakan Manor Solomon yang ditepis kiper Auckland, Michael Woud. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum.
Di babak kedua, Fernandes masuk pada menit ke-60 dan tak lama kemudian Tottenham menggandakan keunggulan. Kali ini, Mathys Tel menusuk ke kotak penalti dan memberikan umpan matang kepada Richarlison yang dengan mudah mencetak gol dari jarak dekat. Skor 2-0 bertahan hingga akhir laga.
Jadwal Tur Pramusim Selanjutnya
Setelah laga di Auckland, Tottenham akan melanjutkan tur ke Sydney. Mereka dijadwalkan menghadapi klub A-League Sydney FC dan rival sekota, Chelsea. Laga-laga ini diharapkan semakin mematangkan persiapan tim menuju musim baru Premier League.
Kemenangan atas Auckland FC menjadi awal yang positif bagi Tottenham. Dengan skuad yang masih dalam proses penyempurnaan, tur pramusim ini menjadi ajang uji coba penting bagi pemain muda dan rekrutan baru untuk beradaptasi dengan gaya bermain De Zerbi.
Skandal pelecehan seksual mengguncang dunia sepak bola muda Amerika Serikat setelah pemain akademi Austin FC dilaporkan terlibat dalam kasus asusila yang melibatkan sesama pemain. FBI dan Kepolisian Austin secara resmi mengusut dugaan tindakan tidak senonoh yang terjadi di lingkungan akademi klub Major League Soccer (MLS) tersebut.
Menurut sumber yang mengetahui langsung jalannya penyelidikan, kasus ini bermula dari laporan yang disampaikan oleh beberapa keluarga pemain ke manajemen Austin FC. Mereka mengaku menemukan bukti adanya interaksi yang tidak pantas dilakukan oleh sekelompok pemain akademi. Karena melibatkan anak di bawah umur, pihak berwenang menangani kasus ini dengan sangat tertutup.
Laporan dari Keluarga Pemain
Sejumlah sumber yang berbicara kepada Guardian dengan syarat anonim menyebutkan bahwa penyelidikan berfokus pada dugaan interaksi seksual antar sesama pemain akademi. Keluarga korban merasa khawatir dan langsung melaporkan kejadian tersebut kepada pihak klub. Kepolisian Austin kemudian mengonfirmasi adanya investigasi yang masih berlangsung, namun menolak memberikan rincian lebih lanjut karena melibatkan anak-anak dan penyelidikan belum selesai.
Seorang juru bicara FBI menyatakan bahwa biro tersebut tidak bisa mengonfirmasi atau menyangkal adanya penyelidikan, namun sumber di dalam liga dan klub memastikan bahwa aparat federal sudah turun tangan. Bahkan, agen FBI telah mengunjungi fasilitas latihan Austin FC untuk melakukan wawancara dengan sejumlah pihak.
Tanggapan Klub dan MLS
Akademi Austin FC merilis pernyataan resmi kepada Guardian pada Desember 2025, mengakui bahwa mereka mengetahui tuduhan tersebut dari keluarga pemain. “Setelah menerima laporan, kami segera mengambil tindakan,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Langkah pertama yang dilakukan adalah melaporkan kasus ini ke MLS, Pusat SafeSport Amerika Serikat, dan penegak hukum setempat.
Selain itu, akademi menginisiasi penyelidikan internal yang dikoordinasikan dengan liga. Semua aktivitas untuk kelompok usia yang terlibat dalam tuduhan langsung dihentikan sementara. MLS dalam pernyataannya menegaskan bahwa keselamatan pemain adalah prioritas utama. Liga mendekati masalah ini dengan perspektif berbasis trauma, melindungi privasi anak-anak yang terlibat, serta meminimalkan risiko kerugian lebih lanjut.
Dampak pada Program Akademi
Akademi Austin FC saat ini mengelola lima tim dari kategori usia U-13 hingga U-18 dengan total lebih dari 100 pemain. Tim muda ini memiliki struktur kepelatihan dan kepemimpinan yang terpisah dari tim senior. Mereka berkompetisi di MLS Next, liga pemuda yang dimulai sejak 2020. Seperti banyak akademi MLS lainnya, Austin FC merekrut pemain dari seluruh negeri dan menyediakan tempat tinggal homestay serta pendidikan melalui kerja sama dengan SAI Academy dari Florida.
Kasus ini memicu kekhawatiran tentang pengawasan terhadap pemain muda yang tinggal jauh dari orang tua. Meski klub dan liga telah menjatuhkan sanksi disiplin kepada beberapa pemain akademi, tidak ada staf akademi yang dikenai tindakan. Sumber internal mengatakan bahwa proses internal klub dan liga dihentikan sementara sampai penyelidikan pihak berwenang selesai.
Suspensi dan Disiplin
Menurut sumber di dalam MLS dan Austin FC, sejumlah pemain akademi telah menerima sanksi disiplin sebagai hasil investigasi internal. Namun, klub dan liga sepakat untuk tidak mengambil tindakan lebih lanjut hingga aparat menyelesaikan penyelidikan mereka. “Kami akan terus bekerja sama sepenuhnya dengan penegak hukum,” ujar perwakilan akademi. Komitmen ini menunjukkan keseriusan klub dalam menangani skandal pelecehan seksual yang mencoreng nama baik akademi.
Kondisi Terkini Tim Senior
Sementara itu, di level tim utama, departemen olahraga Austin FC mengalami perubahan besar dalam beberapa bulan terakhir. Pelatih kepala Nico Estévez dan direktur olahraga Rodolfo Borrell hengkang pada Mei lalu. Sebuah sumber klub menegaskan bahwa perubahan ini tidak ada kaitannya dengan kasus akademi. Klub kemudian menunjuk mantan pelatih Philadelphia Union, Jim Curtin, sebagai pengganti Estévez. Curtin baru akan mulai menangani tim pada musim semi 2027. Saat ini, tim di bawah asuhan pelatih sementara Davy Arnaud berada di posisi ke-14 dari 15 tim di Wilayah Barat, hanya unggul tiga poin dari Sporting Kansas City yang berada di dasar klasemen.
Kesimpulan dan Komitmen Keamanan Pemain
Kasus ini menjadi pengingat penting bagi seluruh akademi sepak bola di Amerika Serikat untuk memperketat pengawasan dan perlindungan terhadap pemain muda. Austin FC dan MLS berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan FBI, serta menerapkan pendekatan berbasis trauma dalam menangani korban. Ke depannya, diharapkan langkah-langkah preventif yang lebih ketat bisa mencegah terulangnya skandal pelecehan seksual di lingkungan akademi.
Bagi para orang tua dan masyarakat, kasus ini juga menyoroti pentingnya peran aktif dalam melaporkan setiap indikasi kekerasan atau pelecehan. Dengan kerja sama semua pihak, dunia sepak bola muda dapat menjadi tempat yang aman dan positif bagi pengembangan bakat generasi penerus.
Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi paling monumental dalam sejarah turnamen sepak bola terbesar di dunia. Untuk pertama kalinya, ajang ini digelar di tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dengan format baru yang melibatkan 48 tim, turnamen ini menjanjikan lebih banyak pertandingan, kejutan, dan cerita menarik.
Para penggemar sepak bola sudah tidak sabar menyaksikan siapa saja tokoh yang akan muncul sebagai bintang baru, serta momen-momen besar yang akan dikenang sepanjang masa. Artikel ini akan mengulas berbagai sosok penting dan peristiwa kunci yang patut dinantikan di Piala Dunia 2026.
Tokoh-Tokoh yang Akan Menjadi Sorotan
Bintang Muda yang Siap Bersinar
Setiap edisi Piala Dunia selalu melahirkan wajah-wajah baru. Pada Piala Dunia 2026, diperkirakan sejumlah pemain muda berbakat akan menjadi pusat perhatian. Nama-nama seperti Jude Bellingham, Kylian Mbappé (jika masih dalam performa puncak), dan Pedri diprediksi akan mendominasi pemberitaan. Mereka tidak hanya membawa skill individu, tetapi juga menjadi simbol generasi baru sepak bola global.
Pelatih dengan Strategi Revolusioner
Selain pemain, pelatih juga memegang peran penting dalam menciptakan momen ikonik. Pelatih seperti Lionel Scaloni (Argentina) atau Didier Deschamps (Prancis) mungkin akan kembali menunjukkan taktik jitu. Namun, jangan lupakan sosok pelatih underdog yang bisa membuat kejutan, misalnya dari negara-negara yang baru pertama kali lolos ke turnamen 48 tim ini.
Momen-Momen Besar yang Dinantikan
Pertandingan Pembuka yang Spektakuler
Piala Dunia 2026 akan dimulai dengan laga pembuka yang dihelat di Stadion Azteca, Meksiko – stadion yang sarat sejarah. Momen ini pasti akan menjadi sorotan global, terutama karena Meksiko menjadi tuan rumah Piala Dunia untuk ketiga kalinya. Suasana meriah, dukungan suara keras dari penonton, dan gol pertama turnamen akan menjadi kenangan abadi.
Format Baru: 48 Tim, Lebih Banyak Drama
Dengan bertambahnya jumlah peserta, babak grup akan semakin kompetitif. Tim-tim kecil berpeluang mengejutkan raksasa sepak bola. Kita bisa berharap muncul kisah “Cinderella” seperti Maroko di edisi 2022, namun dalam skala yang lebih besar. Momen-momen seperti tendangan penalti dramatis atau gol di menit akhir akan semakin sering terjadi.
Laga Klasik dan Rivalitas Abadi
Rivalitas seperti Brasil vs Argentina, Jerman vs Inggris, atau Amerika Serikat vs Meksiko pasti akan kembali memanaskan turnamen. Setiap duel tersebut bisa melahirkan momen kontroversial, selebrasi ikonik, atau bahkan insiden yang dikenang puluhan tahun. Penggemar sudah menanti adu taktik dan emosi di lapangan hijau.
Dampak Global Piala Dunia 2026
Turnamen ini tidak hanya soal sepak bola. Piala Dunia 2026 juga menjadi ajang diplomasi budaya dan ekonomi. Tiga negara tuan rumah akan bekerja sama dalam logistik, keamanan, dan promosi pariwisata. Momen-momen seperti penampilan opening ceremony yang megah atau aksi solidaritas antarnegara akan menjadi headline media dunia.
Selain itu, teknologi VAR dan kecerdasan buatan diprediksi semakin canggih, sehingga keputusan wasit akan lebih akurat – namun tetap menyisakan ruang perdebatan seru di kalangan penggemar.
Kesimpulan
Piala Dunia 2026 bukan sekadar turnamen sepak bola biasa. Ia adalah perayaan global yang menyatukan jutaan orang dari berbagai latar belakang. Dari tokoh-tokoh karismatik hingga momen-momen tak terlupakan, edisi ini berpotensi menjadi yang terbaik dalam sejarah. Nantikan setiap detik pertandingan, karena keajaiban selalu terjadi di panggung terbesar sepak bola dunia.
Jumlah Laporan Insiden Sepak Bola di Inggris Capai Rekor
Musim lalu, jumlah pertandingan sepak bola di Inggris dan Wales yang melibatkan laporan insiden kepada polisi mencapai level tertinggi sepanjang sejarah. Lonjakan ini terjadi di tengah tren penurunan jumlah penangkapan yang perlahan kembali ke angka sebelum pandemi.
Berdasarkan laporan tahunan dari Home Office yang dirilis Kamis lalu, terdapat peningkatan 4% dalam jumlah pertandingan dengan laporan “perilaku antisosial, kekerasan, dan kerusuhan terkait sepak bola” pada musim 2025-26. Laporan tercatat di 1.644 pertandingan, naik dari 1.580 pada musim sebelumnya. Data ini menjadi sorotan utama dalam seruan polisi agar klub-klub besar turut meringankan beban keamanan yang selama ini ditanggung wajib pajak.
Data Penangkapan dan Jenis Pelanggaran
Home Office mencatat ada empat penangkapan (atau tindakan lain seperti pemeriksaan sukarela) per 100.000 penonton pada pertandingan sepak bola pria musim 2025-26. Kompetisi FA Cup menjadi ajang dengan tingkat penangkapan tertinggi. Sementara itu, di pertandingan wanita, jumlahnya hanya empat penangkapan secara total.
Total penangkapan musim lalu mencapai 1.695, turun dari 1.744 pada 2024-25 dan puncak 2.198 selama musim terdampak pandemi 2021-22. Namun, di balik angka tersebut terjadi peningkatan jumlah penangkapan dan tindakan lain yang terkait dengan gangguan ketertiban umum, yang merupakan jenis pelanggaran paling umum.
Perubahan data juga memengaruhi laporan tahun ini. Contohnya, pada musim lalu ditambahkan pelanggaran “masuk tanpa izin” ke dalam Undang-Undang Penonton Sepak Bola 1989. Sebanyak 45 penangkapan dilakukan berdasarkan aturan baru tersebut, yang seharusnya membuat total penangkapan dan tindakan turun 4% jika aturan ini tidak diterapkan.
Kategori Baru: Seksisme dan Kekerasan Terhadap Perempuan
Home Office juga menambahkan kategori baru yaitu “seksisme dan misogini” serta “kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan” ke dalam daftar perilaku yang bisa dilaporkan oleh suporter, baik kepada polisi maupun badan seperti FA atau Kick It Out. Menurut pernyataan Home Office, sebanyak 22 pertandingan dilaporkan atas perilaku seksis dan 37 pertandingan atas kekerasan terhadap perempuan. Kenaikan laporan secara keseluruhan sebagian besar didorong oleh kategori baru ini.
Jenis insiden yang paling sering dilaporkan adalah “kejahatan kebencian” (hate crime), terjadi di 491 pertandingan. Posisi kedua adalah laporan pelemparan benda (359 pertandingan), dan ketiga penggunaan kembang api (316 pertandingan).
Larangan Menonton Sepak Bola Tertinggi Sejak 2012
Data lain dari Home Office menunjukkan jumlah larangan menonton sepak bola (Football Banning Orders/FBO) yang dikeluarkan mencapai level tertinggi sejak 2012. Saat ini ada 2.460 FBO yang berlaku, naik 568 dari musim sebelumnya—lebih rendah dibandingkan kenaikan 685 pada 2024-25. FBO adalah sanksi yang mencegah seseorang yang terbukti melakukan kejahatan terkait sepak bola untuk menghadiri pertandingan.
Polisi: Klub Harus Bayar Keamanan di Luar Stadion
Kepala polisi Mark Roberts, yang memimpin pengamanan sepak bola di Inggris dan Wales, menyatakan laporan Home Office terbaru menunjukkan perlunya meninjau kembali pendanaan pengamanan sepak bola. Pasalnya, 46% penangkapan dan tindakan terjadi di luar stadion. “Kejahatan terkait sepak bola tidak berhenti begitu suporter keluar dari stadion. Namun, di bawah sistem saat ini, klub sepak bola bernilai miliaran pound tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk pengamanan di luar area stadion,” ujar Roberts. “Akibatnya, wajib pajak harus menanggung tagihan sebesar £70 juta setiap musim. Ini tidak bisa dibiarkan terus berlanjut.”
Pernyataan Roberts ini menegaskan bahwa beban keamanan klub sepak bola seharusnya tidak sepenuhnya ditanggung publik. Klub-klub kaya di Liga Premier dinilai memiliki kemampuan finansial untuk berkontribusi lebih besar dalam menjaga ketertiban di sekitar tempat pertandingan.
Tanggapan Premier League: Investasi Besar dalam Keamanan
Seorang juru bicara Premier League menyatakan bahwa liga dan klub-klubnya bekerja sama erat dengan kepolisian di tingkat nasional dan lokal untuk memastikan lingkungan yang aman dan ramah bagi semua penggemar. “Kami menginvestasikan lebih dari £90 juta per musim untuk steward, keamanan, pencegahan kejahatan di komunitas, serta serangkaian proyek percontohan berbasis teknologi bersama kepolisian dan UKFPU (United Kingdom Football Policing Unit),” jelasnya.
Juru bicara tersebut menambahkan bahwa pendekatan kemitraan ini akan membantu polisi mengurangi permintaan pengamanan di sekitar pertandingan sepak bola secara aman, seiring dengan terus menurunnya jumlah penangkapan dalam satu dekade terakhir. Meskipun begitu, polisi tetap mendesak adanya perubahan kebijakan agar klub-klub besar turut menanggung biaya pengamanan di luar stadion, yang hingga kini masih menjadi beban keamanan klub sepak bola yang ditanggung wajib pajak.
Musim Manis yang Berakhir Pahit bagi Barcelona Femení
Kegembiraan meraih empat trofi di musim 2025-26 ternyata hanya berlangsung singkat bagi tim wanita Barcelona. Klub raksasa Catalan itu kembali menghadapi gelombang kepergian pemain di musim panas kedua secara berturut-turut. Jika memenangkan Liga Champions saja tidak cukup untuk mempertahankan para pemain bintang, apa lagi yang bisa dilakukan klub?
Sejauh ini, tujuh pemain telah meninggalkan juara Eropa tersebut, sementara satu-satunya rekrutan anyar hanyalah Renee van Asten (19 tahun) dari Ajax. Situasi ini menjadi semakin pelik karena sebagian besar pemain terbaik justru termasuk dalam daftar mereka yang angkat kaki. Eksodus pemain Barcelona ini dipimpin oleh dua kali peraih Ballon d’Or, Alexia Putellas, diikuti oleh rekan setimnya di tim nasional Spanyol: Ona Batlle, Mapi León, dan Salma Paralluelo.
Apa Penyebab Kepergian Massal Ini?
Seperti yang sering terjadi dalam sepak bola, jawabannya adalah uang. Masalah financial fair play La Liga pria terus mengganggu klub dari akar hingga pucuk. Saat artikel ini ditulis, tim wanita Barcelona hanya memiliki 17 pemain senior — dua kiper, enam bek, enam gelandang, dan tiga penyerang — meskipun mereka sedang dalam negosiasi untuk mendatangkan penyerang Brasil, Kerolin, dari Manchester City.
Kepergian Putellas merupakan pukulan terbesar. Ia meninggalkan rumahnya selama 14 tahun untuk bergabung dengan London City Lionesses milik Michele Kang di Women’s Super League (WSL). Fakta bahwa ia pergi dengan status bebas transfer menyoroti krisis manajemen internal di klub. Mapi León mengikuti kapten Blaugrana itu ke London City, juga dengan transfer gratis. Di sana, mereka akan bersatu kembali dengan tiga mantan rekan setim: Jana Fernández, María Pérez, dan Lucía Corrales.
WSL telah menjadi tujuan favorit para pemain Barcelona; 14 dari 19 pemain yang hengkang sejak 2024 memilih klub Inggris. Batlle menandatangani kontrak dengan Arsenal, bergabung dengan mantan pemain sayap Barcelona, Mariona Caldentey. Sementara itu, Salma Paralluelo belum mengumumkan destinasi musim depannya, meskipun PSG menjadi favorit setelah negosiasi dengan Chelsea gagal.
Dampak pada Kekuatan Skuad
Kepergian-kepergian ini terjadi sejak 2024 dan mencakup pemain akademi yang sudah tampil reguler di tim utama. Di sisi lain, hanya ada dua pemain baru yang direkrut dan dua produk akademi yang naik ke tim senior. Kiper cadangan Ellie Roebuck tiba pada Juli 2024, tetapi pergi setelah satu musim, sementara Laia Aleixandri bergabung dengan status bebas transfer dari Manchester City pada Juni 2025.
Dengan latihan pramusim yang dimulai pada Senin, 27 Juli, tekanan untuk merekrut pemain baru semakin besar. Skuad saat ini tampak sangat tipis, bahkan berbahaya jika ada cedera. Klub telah berjanji akan ada rekrutan baru yang akan diumumkan segera, entah itu pemain profesional berpengalaman atau lulusan akademi.
Akademi: Sumber Daya yang Mulai Mengering
Musim lalu, produk akademi seperti Aïcha Camara dan Clara Serrajordi naik ke tim senior saat situasi serupa terjadi. Barcelona biasanya mampu mempromosikan pemain berkualitas dari dalam, tetapi masalahnya kini pemain kunci akademi pun ikut hengkang. Kiper Txell Font pindah ke tetangga FC Badalona, Adriana Ranera bergabung dengan Deportiva de A Coruña, Martine Fenger pergi ke Hoffenheim, dan Alba Caño berlabuh di NWSL bersama Boston Legacy.
Beberapa pemain akademi memang sukses naik level musim lalu dan bahkan menyelamatkan kampanye klub. Serrajordi menjadi pelapis di lini tengah saat Aitana Bonmatí atau Patri Guijarro absen, sementara Camara memainkan peran besar di lini pertahanan saat Batlle cedera selama sebulan. Namun, karena pemain akademi terbaik sudah diberi kontrak tim utama, opsi yang tersisa semakin terbatas musim panas ini. Gelandang Carla Julià (19) dan Rosalía Domínguez (17) saat ini menjadi favorit untuk naik ke tim utama jika klub memprioritaskan rekrutan dari dalam.
Ancaman Finansial dan Olahraga
Musim lalu, Barcelona Femení mencatat laba sebesar €1,955 juta (£1,67 juta), hasil keuangan terbaik sejak musim 2023-24. Ini didorong oleh peningkatan hadiah uang Liga Champions dan keberhasilan meraih tiga trofi domestik. Namun, dengan kepergian beberapa nama besar, sulit untuk menyamai angka tersebut pada 2026-27.
Hilangnya Batlle akan berdampak besar pada pertahanan, terutama setelah Fridolina Rölfö pindah ke Manchester United setahun sebelumnya. Renee van Asten telah didatangkan dari Ajax, dan Martina Fernández kemungkinan kembali dari pinjaman di Everton. Lini depan tampak lebih tipis, meskipun pelatih Pere Romeu memiliki gaya sepak bola tertentu yang memungkinkannya memainkan gelandong seperti Vicky López, Kika Nazareth, dan Sydney Schertenleib di lini serang.
Kesimpulan: Menanti Badai Cedera Berikutnya
Tim ini terasa seperti satu cedera besar dari kehancuran. Musim lalu mereka beruntung — bahkan berhasil memenangkan semua yang bisa dimenangkan — tetapi berapa lama lagi hal ini bisa bertahan? Sebuah tim yang ingin mempertahankan gelar juara Eropa tidak bisa terus-menerus mengandalkan produk akademi. Eksodus pemain Barcelona ini menjadi ujian nyata bagi ambisi dan manajemen klub. Dengan skuad yang semakin menipis dan persaingan yang semakin ketat, Barcelona harus segera bergerak cepat jika tidak ingin kehilangan dominasi mereka di sepak bola wanita Eropa.
Mantan manajer legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson, memberikan penghormatan terakhirnya kepada Kevin Keegan. Keegan, yang baru saja meninggal dunia pada usia 75 tahun karena penyakit kanker, dikenang sebagai salah satu karakter paling dicintai dalam dunia sepak bola. Ferguson menyebut Keegan sebagai sosok yang membangun tim terhebat dalam sejarah Newcastle United.
Persaingan Sengit di Liga Premier
Ferguson dan Keegan pernah terlibat dalam persaingan ketat memperebutkan gelar Liga Premier. Pada musim 1995-1996, Manchester United milik Ferguson berhasil mengalahkan Newcastle yang dilatih Keegan untuk merebut juara. Meski persaingan itu sempat memanas, Ferguson mengaku sangat menghormati lawannya.
Manchester United manager Sir Alex Ferguson during a match in April.
“Saya memiliki rasa hormat yang sebesar-besarnya padanya. Kami sering berduel saat ia menjadi manajer Newcastle, tapi pekerjaan yang ia lakukan di sana sungguh fantastis. Dia menghidupkan kembali klub itu dan membawa semangat serta fanatisme yang hanya bisa diberikan oleh pendukung hebat,” kata Ferguson dalam wawancara dengan Track Radio.
Membangun Tim Terbaik Newcastle
Salah satu pencapaian terbesar Kevin Keegan adalah membangun skuad Newcastle yang dikenal sebagai “The Entertainers”. Ferguson menilai bahwa tim asuhan Keegan adalah yang terbaik dalam sejarah klub. Keegan berhasil mendatangkan tiga pemain kelas dunia: David Ginola, Faustino Asprilla, dan Philippe Albert. Mereka memberikan sentuhan kelas pada tim yang sebelumnya hampir terdegradasi ke divisi tiga.
Saat Keegan mengambil alih, Newcastle berada dalam ancaman degradasi ke kasta ketiga. Namun, ia berhasil menyelamatkan klub dari nasib buruk tersebut dan mempromosikan mereka ke Liga Premier pada tahun 1993. Gaya bermain Newcastle yang atraktif membuat mereka mendapat julukan “para penghibur”.
Momen Emosional dan Persahabatan
Meskipun persaingan di papan atas sempat memicu ketegangan—Keegan pernah meluapkan amarahnya di depan kamera televisi karena komentar Ferguson—keduanya tetap menjaga hubungan baik. Ferguson mengagumi kemampuan Keegan dalam membangun kembali Newcastle tanpa menyimpan dendam.
Beberapa minggu setelah musim 1995-1996 berakhir, Ferguson dan Keegan tidak sengaja bertemu di sebuah pub dekat lapangan golf Wentworth. Mereka menghabiskan malam bersama di depan piano, melupakan semua rivalitas yang pernah terjadi. “Hal hebat tentang dirinya, ia tidak menyimpan dendam. Itu adalah kualitas luar biasa yang ia miliki. Kami bersenang-senang malam itu. Semua yang terjadi sebelumnya segera terlupakan. Saya sangat menghormatinya karena hal itu,” kenang Ferguson.
Dalam pandangan Ferguson, Keegan adalah sosok yang membawa cinta pada permainan dengan sepenuh hati. Cinta itu menular ke para penggemar dan pemain. Periode Keegan di Newcastle adalah masa penuh emosi dan kegembiraan. “Itu memberi Newcastle—saya rasa—tim terbaik yang pernah mereka miliki,” pungkas Ferguson.
Penghormatan dari Sir Alex Ferguson ini menegaskan betapa besar pengaruh Kevin Keegan dalam sepak bola Inggris, terutama dalam membangun identitas Newcastle United sebagai klub yang penuh gairah dan sepak bola menghibur.
Dominasi Spanyol: Lebih dari Sekadar Bakat Individu
Dalam sepak bola Inggris, kita terlalu sering membicarakan individu. Padahal, sepak bola adalah permainan kolektif. Kemenangan Spanyol atas Prancis di semifinal bukanlah buah dari kecemerlangan satu atau dua pemain, melainkan hasil pemahaman bersama tentang ruang, waktu, dan prinsip-prinsip inti mereka. Inilah yang membuat Spanyol menjadi tim paling luar biasa di dunia, dan saya yakin mereka akan menjuarai Piala Dunia pada Minggu nanti.
Bukan soal Rodri, Lamine Yamal, atau Pedri. Ini soal seluruh lini tengah, soal kebersamaan. Spanyol akan mencari superioritas posisional dan numerik dengan cara apa pun yang mereka bisa, karena hal itu sudah tertanam sejak usia dini. Mereka adalah penguasa waktu dan ruang di lapangan hijau. Melawan Prancis, budaya ini dihargai dengan terciptanya banyak momen unggul empat lawan dua di area-area kunci.
Akar Dominasi: Sistem Pembinaan yang Kokoh
Menjelang final, mungkin Anda akan membaca artikel yang memuji Rodri sebagai yang terbaik di dunia. Ya, ia unggul secara teknis, taktis, dan psikologis. Tapi percayalah, kemampuan kelas dunianya bukanlah penyebab utama dominasi Spanyol. Ingat final Euro 2024. Saat turun minum, Rodri harus keluar. Martín Zubimendi masuk, dan lini tengah Spanyol tetap mampu mengendalikan permainan. Mengapa? Karena metodologi mereka yang sangat jelas telah dibangun sejak lama—bukan oleh satu individu, bukan oleh pergantian pelatih. Metodologi itu diterapkan dari pemain usia delapan tahun hingga 23 tahun, hingga mereka menjadi raja.
Bagaimana caranya? Di Spanyol, setiap pemain—pria maupun wanita—dibina dalam sistem yang memiliki seperangkat keyakinan dengan metodologi yang jelas. Pengembangan semua prinsip bermain dalam kerangka itu membekali mereka untuk tampil di level tertinggi. Semuanya dimulai dari struktur dasar 4-3-3 saat menguasai bola; itu adalah titik awal di semua kelompok usia, dan mereka tidak menyimpang dari situ. Namun, mereka juga fleksibel dalam posisi. Lihat tahun 2024 saat mereka bermain dengan No.9 (Álvaro Morata), dan musim panas ini dengan false 9 (Mikel Oyarzabal) yang unggul di antara lini. Kedua skenario berhasil.
Di Piala Dunia ini, dengan kombinasi Rodri, Fabián Ruiz, Dani Olmo, dan Oyarzabal, yang diutamakan bukanlah posisi tetap, melainkan kemampuan intrinsik untuk tiba di ruang kosong pada waktu yang tepat. Mereka berotasi, bertukar posisi, dan bergerak ke area yang menciptakan keunggulan setiap saat. Mereka juga saling membaca untuk menciptakan situasi di mana ada satu pemain lebih di area tertentu, di mana pun lokasinya. Jika tidak bisa menciptakan kelebihan jumlah, mereka bertanya pada diri sendiri: “Bagaimana kita bisa menciptakan keunggulan posisional dengan rotasi?”
Budaya yang Berakar dari Cruyff hingga Hukum Nasional
Budaya ini kembali ke era awal Johan Cruyff di Barcelona, dan tim nasional Spanyol melakukannya lebih baik dari negara mana pun di dunia, baik sepak bola pria maupun wanita. Itulah mengapa mereka memenangkan rekor sembilan gelar Piala Eropa U-17, mencapai tiga final Eropa U-19 terakhir, dan memenangkan rekor bersama lima Piala Eropa U-21. Kisah serupa terjadi di sepak bola wanita: rekor delapan trofi Piala Eropa U-19 wanita, tujuh di antaranya sejak 2017, termasuk lima kali berturut-turut. Di Spanyol, undang-undang mewajibkan atlet untuk memenuhi panggilan tim nasional di semua kelompok usia. Di banyak negara, hal itu tidak berlaku. Namun, pengalaman di tim nasional muda sangat penting untuk mengembangkan pemahaman pemain tentang peran mereka dalam posisi-posisi utama di bawah tekanan turnamen besar.
Argentina: Kolektif ala Pejuang
Argentina juga merupakan tim yang benar-benar kolektif, tetapi dengan cara yang sangat berbeda. Saya menyukai apa yang ditulis psikolog olahraga Daniel Abrahams di media sosialnya pekan ini. Tentang Argentina, ia mengatakan mereka “menyanyikan lagu kebangsaan dengan penuh semangat” dan “sama agresifnya dalam menekan dan duel seperti yang akan Anda lihat. Sedikit melanggar aturan. Bersikap jahat [dan] di depan wajah lawan, bersaing dengan begitu banyak gairah dan kasih sayang satu sama lain, dengan begitu banyak kemauan dan tekad sehingga tidak ada ruang untuk kecemasan.”
Kita tidak boleh meremehkan betapa sulitnya mencapai pola pikir kolektif seperti itu. Intensitas komitmen, ikatan persaudaraan, adrenalin yang dibutuhkan, dan hubungan antara pemain dan penggemar mereka tidak ada tandingannya di olahraga lain. Manajer mereka sering berbicara tentang bagaimana mereka merespons kesulitan. Argentina adalah negara yang unggul dalam kesulitan. Mereka adalah prajurit sepak bola internasional. Karena itu, mereka tidak pernah benar-benar kalah, bahkan jika tidak mendominasi bola, dan mereka akan berjuang hingga menit terakhir final ini.
Evolusi Spanyol dan Pelajaran bagi Inggris
Spanyol dengan mahir memindahkan bola ke satu sisi lapangan untuk menggeser gelandang lawan, lalu mengembalikannya untuk mengeksploitasi zona yang sudah mereka targetkan sejak awal. Anda pikir bermain satu lawan satu melawan Spanyol akan berhasil? Tidak, mereka tahan terhadap tekanan, tahu cara memecah tekanan. Dan mereka telah berevolusi. Mereka tidak takut untuk bermain panjang dan langsung, mengirim bola ke ruang kosong. Mereka telah memvariasikan permainan mereka. Merekalah tim terbaik di dunia. Sebelum turnamen ini dimulai, saya menulis di Guardian bahwa Spanyol adalah favorit saya, dan saya akan tetap pada pendirian itu.
Bagi Inggris, menyaksikan final Minggu nanti akan terasa menyakitkan. Mengapa kita tidak bisa melewati garis akhir? Apakah ini terkait dengan susunan sosial dan budaya kita? Saya percaya ini ada kaitannya dengan aspek mental permainan. Di level tertinggi, Anda harus melatih otot-otot di otak Anda sama seperti Anda melatih seluruh tubuh, untuk memastikan emosi tidak mengacaukan performa di bawah tekanan. Kita harus bertanya pada diri sendiri, mengapa Argentina begitu sukses saat di saat-saat krusial, sementara kita tidak?
Ini bukan soal taktik atau pergantian pemain. Kita bersikap picik dan emosional ketika membahas hal-hal itu tepat setelah kekalahan semifinal. Dalam jangka panjang, kita harus bertanya apa yang ada dalam psikologi kita yang belum kita atasi sebagai bangsa untuk mengatasi ini? Dan bagaimana kita semua berkontribusi untuk itu; pemain, pelatih, penggemar, media, klub… semua dari kita?
Argentina tidak pernah kekurangan keyakinan saat melawan Inggris. Mereka bersatu seperti ikatan yang tak terputus, tanpa mencari kesalahan atau mencari-cari kekurangan. Perilaku alami kita adalah mencari kesalahan, menonjolkan seorang individu, atau memuji satu orang. Kita harus menerima gagasan bahwa ketika menang, itu karena kolektif; ketika kalah, juga karena kolektif.
Itulah sebabnya Argentina dan Spanyol berada di final. Mereka adalah dua negara yang memiliki kejelasan luar biasa tentang identitas mereka dan dua tim paling kolektif di turnamen ini.
Kegagalan Tuchel di Piala Dunia: Sebuah Ironi yang Menggugat
Hanya Inggris yang mampu merebut medali perunggu Piala Dunia dengan kemenangan dramatis 10 gol atas Prancis, namun justru membuat publik semakin frustrasi dengan pelatihnya. Emosi masih memanas setelah kekalahan dari Argentina, dan kemenangan tanpa tekanan itu tidak cukup meredam kritik terhadap Thomas Tuchel. Peristiwa ini sekali lagi menyoroti betapa besarnya resiko pelatih asing timnas Inggris yang diimpor dengan harapan bisa menjadi pahlawan instan.
Ketika Tuchel dipekerjakan, janji utamanya adalah membuat perbedaan di laga-laga besar. Saat janji itu runtuh, yang tersisa hanyalah kemarahan. Ini membuka kekosongan inti dari penunjukan tersebut: federasi kaya yang menutupi kelemahan sistem pembinaan pelatihnya dengan mengeluarkan uang besar untuk pelatih luar. Pertanyaan fundamental pun muncul: apa sebenarnya visi FA?
Awalnya Tuchel dimaksudkan sebagai kejutan jangka pendek, menggunakan kemampuan taktisnya untuk membawa Inggris melewati garis finis. Namun setelah sukses di kualifikasi melawan lawan lemah, FA mengubah target dengan memberikan perpanjangan kontrak, seolah kemenangan Piala Dunia bukan lagi prioritas. Ironisnya, gagasan Tuchel sebagai pembangun proyek terasa mustahil setelah kekalahan pahit dari Argentina.
Kritik terhadap Taktik dan Filosofi Tuchel
Tuchel dikritik karena pergantian pemain yang defensif saat Inggris unggul. Pelatih Jerman itu dengan nada meremehkan berbicara tentang “DNA Inggris”, menyesalkan kurangnya penguasaan bola. Kritiknya memang ada benarnya – itu sudah lama menjadi kelemahan – tapi bukankah Tuchel sendiri yang memperparah keadaan dengan tidak membawa banyak pemain penguasa bola? Bagaimana jika Adam Wharton, Trent Alexander-Arnold, dan Cole Palmer hadir di Atlanta? Mungkin tidak akan berbeda, tapi tim ini menunjukkan tingginya resiko pelatih asing timnas Inggris yang tidak memahami kultur pemain yang ada.
Mungkin Tuchel merujuk pada DNA Inggris tempo dulu. Tapi di sinilah letak masalah mempekerjakan pelatih asing yang fokusnya hanya menang dengan cara apa pun. Ini bukan kali pertama Inggris melalui jalan ini. Eriksson, misalnya, bermain 4-4-2 kaku, sementara Glenn Hoddle lebih fleksibel. Tuchel pun kesulitan membangun identitas. Ia tampak terobsesi dengan gaya lapangan Premier League: kecepatan dan fisik, padahal itu jarang berhasil untuk Inggris di laga knockout besar. Mereka kerap kalah dalam penguasaan bola, menjadi alasan fokus pembinaan usia muda pada gaya Spanyol yang lebih menguasai bola.
Perbandingan dengan Spanyol: Sistem vs Pembelian
Spanyol baru saja memenangkan Piala Dunia lagi, gaya mereka terlalu kuat untuk Argentina di final yang membosankan. Pelajaran besar: dua tim terakhir dipimpin pelatih lokal. Luis de la Fuente dan Lionel Scaloni naik melalui sistem, memiliki rasa terhadap negara dan identitas. Tuchel ditempatkan di puncak dengan harapan ia bisa menutupi kegagalan FA menghasilkan pelatih sendiri. Faktanya, belum pernah ada tim putra yang dipimpin pelatih asing memenangkan Piala Dunia. Ini seharusnya mengkhawatirkan FA ketika mendatangkan orang luar dengan mentalitas menang-sekarang, yang ujungnya membuat tim senior bermain sangat berbeda dari kelompok usia muda.
Di kalangan pembinaan usia muda, ada pandangan bahwa Tuchel justru memundurkan Inggris di turnamen ini. Tim U-21 memenangkan dua Euro terakhir dengan berani memegang bola. Mereka mengalahkan Spanyol di turnamen beruntun, dengan tuntutan Lee Carsley agar pemain berani mengambil risiko. Sementara di semi-final, Tuchel mengakhiri dengan melambungkan bola ke Dan Burn – gaya pragmatis yang membuat Inggris tidak mampu membuang kewaspadaan. Turnamen ini menegaskan bahwa mengandalkan pelatih ternama dari klub bukan resep sukses. Brasil dengan Carlo Ancelotti gugur di 16 besar, Roberto Martínez gagal bersama Portugal, Mauricio Pochettino menyaksikan AS dihina Belgia – semua bukti nyata resiko pelatih asing timnas Inggris dan negara lain.
Akar Masalah: Sistem Pembinaan Pelatih Inggris
Scaloni naik melalui sistem nasional sebelum memenangkan Piala Dunia 2022. De la Fuente memenangkan Piala Eropa U-19 2015 dan U-21 2019, membawa pemain-pemain yang pernah ia latih ke level senior. Spanyol menunjukkan progres yang mulus. Pemain yang mengalahkan Argentina di final pernah bermain untuk De la Fuente di usia muda. Ini tidak berarti jalan Inggris berikutnya adalah mengangkat Carsley – ia belum terbukti punya temperamen untuk pekerjaan senior saat menjadi pelatih sementara. Namun Carsley lebih dekat dengan gaya Spanyol dan membuktikan bahwa tim Inggris bisa menjadi pengambil risiko.
Contoh sederhana: seperti dalam mix parlay, contoh kegagalan satu bagian bisa menghancurkan keseluruhan taruhan. Begitu pula dengan sistem timnas – satu keputusan rekrutmen yang keliru bisa merusak kesinambungan pembinaan. FA harus belajar dari Spanyol dan Argentina yang membangun dari dalam, bukan membeli solusi instan.
Kesimpulan: Masa Depan Timnas Inggris
Ini menjadi bahan pemikiran bagi FA saat mengevaluasi Piala Dunia. Saat ini Tuchel akan mendapat turnamen lain. Ada jembatan yang harus dibangun, finis ketiga bukan dosa yang bisa dipecat. Lagi pula tidak ada ide lain di FA. Tuchel tidak diproduksi, ia dibeli. Harapannya ia beradaptasi selama Nations League, ada pergeseran dari gaya fisik. Tapi jangan kaget jika ‘senjata bayaran’ ini akhirnya terdengar out of touch dengan pandangannya tentang DNA Inggris. Ini tidak akan terjadi pada Spanyol. De la Fuente tahu identitas mereka. Ia bagian dari sistem itu. Resiko pelatih asing timnas Inggris sekali lagi terbukti: membeli pelatih tidak menjamin kesuksesan jika fondasi pembinaan tidak kokoh.
Piala Dunia 2026 telah usai dan perjalanan Timnas Inggris menyisakan banyak cerita. Mulai dari penampilan heroik hingga momen kontroversial, setiap pemain memberi warna tersendiri. Dalam artikel ini, kami menyajikan rating pemain timnas Inggris Piala Dunia 2026 secara lengkap berdasarkan performa mereka di turnamen. Simak ulasannya dari posisi kiper hingga penyerang.
Rating Pemain Timnas Inggris Piala Dunia 2026: Kategori Kiper
Jordan Pickford (7/10) – Penjaga gawang utama Inggris tetap menunjukkan ketangguhannya. Meski sempat diragukan saat gol penyeimbang Enzo Fernández untuk Argentina, Pickford melakukan penyelamatan krusial, termasuk menghalau tembakan Nicolas González di semifinal. Ia menjadi pemain Inggris dengan penampilan terbanyak di final Piala Dunia.
Dean Henderson (7/10) – Harus menunggu hingga perebutan tempat ketiga untuk mendapatkan menit bermain. Meski kebobolan empat gol, penampilannya solid. Henderson diprediksi akan menjadi pesaing serius Pickford dalam dua tahun ke depan.
Bek: Kokoh, Renta, dan Kontroversi
Djed Spence (8/10) – Muncul sebagai pahlawan kultus berkat penampilan penuh semangat. Aksi menolak jabat tangan Thomas Partey dan tekel keras pada Giuliano Simeone akan selalu dikenang. Ia menjadi andalan di sisi kanan pertahanan Inggris.
Marc Guéhi (8/10) – Awalnya bukan pilihan utama Thomas Tuchel, tetapi setelah laga melawan Kroasia posisinya tak tergoyahkan. Bek paling konsisten dan andal, terutama saat menghentikan Erling Haaland dengan sempurna.
John Stones (7/10) – Datang dalam kondisi fitnes rendah dan terlihat di laga pembuka kontra Kroasia. Namun performanya meningkat drastis di perempat final dan semifinal. Ia tetap aset besar saat fit.
Ezri Konsa (7/10) – Beberapa momen goyah di fase grup, namun pulih dengan baik. Mampu mengisi pos bek kanan saat dibutuhkan. Usianya 28 tahun masih memungkinkan tampil di Piala Dunia mendatang.
Dan Burn (7/10) – Kelemahannya terlihat saat melawan Argentina. Namun dua penampilan epik sebagai pemain pengganti melawan Meksiko dan Norwegia akan selalu diingat, terutama sundulan keras yang membuang bola hingga ke area lawan.
Nico O’Reilly (6/10) – Tampil terbaik saat melawan Norwegia di perempat final dengan gaya agresif. Kecewa tidak mencetak gol dan menjadi pemain pengganti saat Argentina membalikkan keadaan di semifinal.
Reece James (6/10) – Pemain berbakat tapi jarang fit. Cedera hamstring membuatnya absen di sebagian besar turnamen. Inggris sangat merindukannya saat ia ditarik keluar melawan Argentina.
Trevoh Chalobah (6/10) – Kejutan sebagai pengganti Tino Livramento yang cedera. Hanya bermain enam menit melawan Prancis.
Jarell Quansah (5/10) – Dimasukkan untuk mengatasi masalah bek kanan saat melawan Panama. Tampil baik hingga kartu merah akibat emosi melawan Meksiko. Dipanggil lagi untuk hadapi Prancis, namun harus diganti.
Gelandang: Bellingham Bersinar, Pemain Lain Bervariasi
Jude Bellingham (9/10) – Menunjukkan kualitas tertinggi saat dibutuhkan. Komitmen penuh pada timnas, meskipun hubungannya dengan Tuchel harus dikelola hati-hati. Ia menjadi motor serangan dan pemain paling menonjol di lini tengah Inggris.
Elliot Anderson (8/10) – Tak terganggu transfer besarnya ke Manchester City. Performanya meningkat seiring turnamen, berlari tanpa henti melawan Norwegia dan Argentina.
Morgan Rogers (8/10) – Memanfaatkan menit bermain yang terbatas di posisi tidak biasa. Tampil apik sebagai gelandang tengah saat lawan Norwegia, lalu memberikan assist untuk Anthony Gordon dari sayap kanan saat melawan Argentina.
Declan Rice (6/10) – Kerja kerasnya tak diragukan, namun cedera hamstring dan punggung yang mengganggu di paruh kedua musim bersama Arsenal memengaruhi performa. Butuh istirahat panjang, tapi mungkin tak mendapatkannya.
Eberechi Eze (6/10) – Empat kali tampil sebagai pemain pengganti tanpa dampak signifikan. Saat starter melawan Prancis, ia tidak mampu menunjukkan kemampuannya. Cukup baik di lini tengah saat lawan Panama, tapi tersisih saat dimainkan di kiri pada perempat final.
Jordan Henderson (5/10) – Hanya bermain 12 menit, namun menjadi sejarah sebagai pemain Inggris pertama yang tampil di tujuh turnamen besar internasional. Sayang, mendapat kartu kuning sebagai pemain pengganti dan patah tangan saat merayakan kemenangan.
Penyerang: Saka Gigih, Kane Kecewa
Bukayo Saka (8/10) – Tiga gol dan tiga assist meski bermain dengan cedera Achilles. Keberaniannya luar biasa. Banyak yang heran ia tidak dimasukkan saat melawan Argentina, dan kehilangannya sangat terasa saat lawan Prancis.
Anthony Gordon (8/10) – Awalnya lambat, kemudian merespons dengan luar biasa setelah dicadangkan. Tiga assist dan satu gol ke gawang Argentina membuktikan mengapa Barcelona begitu ingin merekrutnya.
Harry Kane (8/10) – Sayangnya turnamen ini akan diingat karena penampilan anonimnya saat lawan Argentina, bukan karena menyelamatkan Inggris dari Republik Demokratik Kongo. Akankah ia mendapat kesempatan lebih baik untuk memenangkan Piala Dunia?
Marcus Rashford (6/10) – Awalan bagus dengan gol sebagai pemain pengganti lawan Kroasia, lalu starter lawan Panama. Namun setelah itu tak terlihat hingga injury time saat Inggris tertinggal dari Argentina.
Ivan Toney (6/10) – Duduk di bangku cadangan hingga gol Lautaro Martínez di semifinal. Tiga menit yang diberikan tak cukup untuk memberi dampak, namun tampil baik saat lawan Prancis.
Ollie Watkins (6/10) – Sebagian besar menjadi penonton frustrasi meski menjadi pahlawan di semifinal Euro 2024 dan datang dalam performa puncak. Hanya mendapat setengah babak di sisi kiri lawan Prancis dan sepintas lawan Panama.
Noni Madueke (5/10) – Beberapa momen menjanjikan namun minim hasil akhir dalam empat start. Turun peringkat menjelang semifinal. Perlu lebih klinis di level ini.
Tidak bermain: James Trafford dan Kobbie Mainoo.
Kesimpulan Rating Pemain Timnas Inggris Piala Dunia 2026
Secara keseluruhan, rating pemain timnas Inggris Piala Dunia 2026 menunjukkan ketimpangan kualitas. Jude Bellingham tampil sebagai bintang dengan nilai 9, namun beberapa pilar seperti Harry Kane dan Declan Rice belum mencapai performa terbaik. Kekuatan terbesar ada di lini belakang, sementara kedalaman skuad masih perlu ditingkatkan. Dengan regenerasi yang berjalan, Inggris tetap layak diperhitungkan di turnamen mendatang.
Andrey Santos Jalani Penampilan Perdana Bersama Manchester United
Andrey Santos debut Manchester United dalam laga persahabatan pramusim melawan Wrexham di Helsinki, Jumat (21/7/2023). Meski menunjukkan performa menjanjikan, tim asuhan Michael Carrick harus menelan kekalahan tipis 0-1.
Gelandang muda Brasil yang baru direkrut dari Chelsea dengan biaya awal £48 juta itu langsung diturunkan sebagai starter di lini tengah. Ia berduet dengan Mason Mount, menjadi pusat permainan Setan Merah selama babak pertama.
Kronologi Pertandingan: Babak Pertama yang Menentukan
Kekalahan Manchester United ditentukan oleh gol Sam Smith pada menit ke-39. Pemain Wrexham itu dengan mudah menceploskan bola setelah umpan silang Lewis O’Brien menerobos celah kaki Harry Maguire.
Sebelumnya, Smith nyaris mencetak gol bunuh diri ketika berusaha membuang bola dari sepak pojok, namun mistar gawang menahannya. Peluang terbaik United datang dari tembakan Joshua Zirkzee pada menit ke-24 yang masih melebar tipis.
Andrey Santos debut Manchester United di babak pertama berjalan impresif. Ia menunjukkan rentang operan yang baik dan memenangkan beberapa duel satu lawan satu. Manajer Carrick sebelumnya memuji sikap pemain berusia 22 tahun itu, menyebutnya sebagai karakter fantastis yang langsung beradaptasi dengan tim.
Babak Kedua: Dominasi Tanpa Gol
Pada babak kedua, seluruh pemain kecuali satu diganti. Carrick menurunkan skuad akademi, sementara Wrexham masih diperkuat pemain senior seperti Conor Coady dan Kieffer Moore. United mendominasi penguasaan bola tetapi kesulitan menciptakan peluang emas.
Ancaman dari Davis Keillor-Dunn berhasil digagalkan kiper Radek Vitek. Satu-satunya tembakan tepat sasaran United terjadi pada menit ke-78 melalui Ethan Wheatley, namun Dan Ward mampu mengamankan gawangnya.
Wrexham (3-4-2-1): Okonkwo (Ward 46′); Vyner (Hyam 46′), Scarr (Coady 46′), Doyle (Brunt 46′); A James (Moore 70′), M James (Rathbone 46′), O’Brien (Dobson 46′), Thomason (Ashfield 46′); Smith (Barnett 46′), Broadhead (Keillor-Dunn 46′); Cadamarteri (Moore 46′)
Evaluasi Penampilan Andrey Santos dan Tim
Meski belum sepenuhnya padu, Andrey Santos debut Manchester United memberikan sinyal positif bagi lini tengah klub. Kemampuannya dalam mengatur ritme permainan dan membaca situasi menjadi modal berharga jelang musim kompetisi.
Kekalahan dari Wrexham, tim divisi bawah, menunjukkan masih ada pekerjaan rumah bagi Carrick. Namun, pramusuk adalah ajang uji coba untuk membangun kebugaran dan chemistry pemain. Penampilan Santos setidaknya memberi optimisme bahwa investasi £48 juta tidak sia-sia.
United akan melanjutkan tur pramusim dengan pertandingan berikutnya pekan depan. Para penggemar berharap melihat lebih banyak kontribusi dari rekrutan anyar mereka.