Masa Depan Phil Foden di Manchester City Kini Terancam

Masa depan Phil Foden di Manchester City kini berada di tangan Enzo Maresca, manajer anyar yang menggantikan Pep Guardiola. Foden sendiri mengaku sangat antusias menyambut era baru tersebut, tetapi jurnalis The Guardian, Jonathan Liew, menilai pernyataan itu tidak lebih dari kebohongan yang terang-terangan. Tidak diragukan lagi, Foden antusias untuk bermain sepak bola lagi, menantang gelar bersama klub masa kecilnya, menyambut musim baru Liga Premier, kontrak barunya, dan awal yang segar. Namun antusiasme untuk bekerja di bawah Maresca? Itu cerita yang berbeda.

Tapi mari kita jujur. Hal-hal yang membuat orang antusias biasanya adalah liburan, ulang tahun, pernikahan, atau kiriman paket dari Amazon. Bermain untuk Enzo Maresca jelas bukan salah satunya. Paling banter, pemain hanya bisa bersiap diri, menguatkan mental, lalu bercermin setiap pagi dan bertanya apakah dirinya cukup kuat untuk sang pelatih. Kalau ada pemain yang benar-benar antusias, itu justru berarti Maresca gagal melakukan tugasnya.

Metode Ekstrem Maresca yang Bikin Pemain Ciut

Maresca bukan pelatih biasa. Ia dikenal dengan metode yang sangat menuntut: kerja kelas selama berjam-jam, analisis video yang melelahkan, disiplin tanpa kompromi di lapangan latihan, umpan balik yang blak-blakan, bahkan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemain saat membela timnas. Semua itu dirancang untuk menanamkan blueprint permainannya ke dalam sistem saraf setiap pemain secara permanen.

Salah satu detail paling menarik dari sifat perfeksionis Maresca adalah aturan aneh ketika timnya mencetak gol. Kapten tim dilarang ikut merayakan dan harus segera mendekat ke pinggir lapangan untuk menerima instruksi taktik berikutnya. Dari kebiasaan sekecil ini saja, kita bisa membayangkan betapa ketatnya atmosfer yang diciptakan pelatih asal Italia tersebut.

Hampir Satu Dekade, tapi Seberapa Jauh Kita Mengenal Foden?

Di tengah hiruk-pikuk pergantian pemain di kawasan timur Manchester pada musim panas ini, alur cerita yang paling menarik justru datang dari sesuatu yang nyaris tidak berubah: siapa sebenarnya Phil Foden. Di bawah Pep Guardiola, Foden memenangkan hampir semua gelar yang ada di sepak bola klub. Ia dijuluki talenta generasional sejak kecil, tampil di tiga turnamen internasional bersama Inggris, dan menjadi bagian dari salah satu tim terhebat yang pernah ada.

Kini usianya menginjak 26 tahun, dan kita sudah mengamatinya selama hampir satu dekade. Namun anehnya, pertanyaan paling mendasar pun belum terjawab. Ambil satu contoh sederhana: bahkan di tahun 2026, tidak ada yang benar-benar tahu posisi terbaiknya. Apakah ia penyerang atau gelandang serang? Bermain di tengah, melebar, atau mulai dari sayap lalu masuk ke tengah? Di lini kedua, di garis pertahanan terakhir, atau justru di antara garis-garis itu?

Kalau dipikir lagi, apa sebenarnya yang ia lakukan di lapangan? Foden punya umpan yang baik, tetapi bukan pengumpan murni. Kakinya lincah, tetapi bukan dribbler murni. Ia mencetak gol, tetapi tidak bisa disebut pencetak gol elit—kecuali pada musim 2023-24, ketika ia secara tak terduga mulai melesakkan gol-gol spektakuler dari jarak 25 yard. Dalam satu aspek permainan pun ia mungkin tidak masuk 10 besar dunia, tetapi tetap menjadi pemain yang sangat bagus dengan alasan yang sulit dijelaskan.

Inilah yang membuat semuanya makin membingungkan. Bagaimana mungkin setelah 49 caps internasional dan 225 pertandingan di liga yang paling diawasi di dunia, kita masih belum paham tipe pemain seperti apa dirinya? Bahkan pengamat yang paling tajam pun hanya bisa menebak, karena setiap musim Foden tampil dengan peran yang berbeda-beda.

Kontradiksi Guardiola soal Posisi Terbaik Foden

Selama sembilan musim menjadi manajernya, Guardiola sebenarnya sudah banyak memberikan jawaban—meski tidak selalu dalam urutan yang masuk akal. Pada 2022, ia menyebut posisi sayap lebih cocok untuk Foden sambil memprediksi ia akan pindah ke tengah suatu saat nanti. Setahun kemudian, Guardiola justru memperingatkan bahwa Foden terlalu “insting bebas” untuk dipercaya memegang peran sentral.

Dua tahun setelahnya, ia