Manajer baru selalu ingin memulai dengan hasil manis, tetapi Derek McInnes justru mengawali kariernya di Rangers tanpa kemenangan dalam empat pertandingan pertamanya. Kekalahan agregat dari Jagiellonia Bialystok di babak kualifikasi kompetisi Eropa level kedua membuat posisinya makin tertekan, dan banyak pihak sudah bersiap menghakimi masa depannya di Ibrox. Namun, sejarah panjang Rangers menunjukkan bahwa awal buruk bukanlah vonis akhir—bahkan bisa menjadi awal dari sesuatu yang manis.
Dari dua laga liga, Rangers hanya mengumpulkan satu poin, dan mereka sudah tersingkir dari satu ajang Eropa. Ironisnya, kekalahan yang menyakitkan ini justru meningkatkan peluang McInnes membawa pulang trofi di musim perdananya. Untuk memahami paradoks ini, kita perlu melihat fakta-fakta di balik start buruk sang manajer serta bagaimana sejarah klub pernah berbicara dengan cara yang serupa.
Awal Buruk Derek McInnes di Rangers
Derek McInnes belum meraih satu kemenangan pun dalam empat pertandingan pertamanya sebagai manajer Rangers. Dari dua laga pembuka di liga, timnya hanya mengumpulkan satu poin—jauh dari ekspektasi klub sebesar Rangers yang terbiasa bersaing di papan atas Liga Skotlandia. Wajar jika kemudian muncul suara-suara kritis yang menilai McInnes tidak cocok menangani tim sebesar ini, bahkan ada yang menyebutnya sebagai “dead man walking” yang tinggal menunggu waktu dipecat.
Yang lebih menyakitkan, Rangers gagal melaju di kompetisi Eropa level kedua setelah hanya mampu bermain imbang 1-1 di kandang sendiri melawan Jagiellonia Bialystok. Hasil itu membuat mereka kalah secara agregat dan tersingkir—sebuah kekalahan yang sangat mahal di hadapan pendukung sendiri. Konsekuensinya, Rangers harus “turun kasta” ke kompetisi Eropa level ketiga, sebuah hasil yang jelas tidak pernah diharapkan siapa pun di Ibrox.
Kritik tajam pun berdatangan dari berbagai arah, terutama dari mereka yang langsung menghakimi kualitas McInnes. Namun, sejarah menunjukkan bahwa awal buruk di Ibrox bukanlah sesuatu yang asing. Sebaliknya, beberapa manajer terbaik Rangers justru memulai dengan cara yang sangat mirip sebelum akhirnya mengangkat trofi.
Belajar dari Sejarah: Souness dan Advocaat
Gagal memenangkan empat laga perdana tentu bukan awal yang ideal, tetapi sejarah Ibrox mencatat bahwa awal buruk bukan berarti akhir dari segalanya. Dua manajer legendaris Rangers, Graeme Souness dan Dick Advocaat, justru memulai karier mereka dengan sangat buruk sebelum akhirnya mempersembahkan trofi. Berikut kilas baliknya:
- Graeme Souness: pada debut liganya melawan Hibernian, ia dikeluarkan dari lapangan di babak pertama setelah aksi balas dendamnya salah sasaran. Rangers kalah 2-1 dan kembali tumbang di pertandingan ketiga. Namun pada musim yang sama, Souness membawa Rangers memenangkan Piala Liga dan merebut gelar juara liga pertama dalam sembilan tahun.
- Dick Advocaat: di laga pertamanya pada 1998 melawan Shelbourne di Prenton Park, Rangers sempat tertinggal 3-0 pada leg pertama kualifikasi Eropa. Meski akhirnya lolos, mereka tetap kalah di laga pembuka liga beberapa hari setelahnya. Pada akhir musim, Advocaat justru “hanya” mampu memberi Rangers treble domestik yang luar biasa.
Dua kisah ini membuktikan bahwa penilaian dini terhadap seorang manajer sering kali keliru. Di era media sosial dan komentar instan sekarang, evaluasi terhadap Derek McInnes memang terasa begitu cepat dan kejam, bahkan sebelum ia sempat menunjukkan kapasitasnya menangani tekanan sebesar di Rangers. Padahal, sejarah yang sama bisa terulang jika semua pihak bersedia sedikit bersabar.
Paradoks Tersingkir: Peluang Trofi Justru Membesar
Yang menarik dari kekalahan melawan Jagiellonia Bialystok adalah efek sampingnya yang kontraproduktif bagi para pengkritik. Secara paradoks, tersingkir dari kompetisi Eropa level kedua membuat Rangers kini hanya fokus pada kompetisi domestik—dan ini justru meningkatkan peluang mereka memenangkan trofi di bawah asuhan Derek McInnes. Dengan jadwal yang lebih longgar, sang manajer bisa memusatkan seluruh tenaga dan strateginya untuk Liga Skotlandia serta turnamen domestik lainnya.
Tentu, angka pastinya tidak ada yang tahu. Apakah peluang itu naik drastis atau hanya bergeser tipis, hanya superkomputer yang bisa menghitungnya secara akurat. Tetapi logikanya sederhana: semakin sedikit kompetisi yang diikuti, semakin besar kemungkinan memenangkan salah satunya. Bagi tim sebesar Rangers yang memang tidak diunggulkan di pentas Eropa, jalan menuju trofi domestik menjadi lebih terbuka daripada sebelumnya.
Inilah paradoks yang dimaksud: sebuah kekalahan menyakitkan di Eropa bisa menjadi berkah tersembunyi bagi perjalanan McInnes di musim pertamanya. Selama ia mampu memanfaatkan momentum ini dan menjaga konsistensi tim di liga, kritik pedas yang sempat menghujaninya bisa berubah menjadi pujian di akhir musim. Tentu, semua itu membutuhkan kerja keras, sedikit keberuntungan, dan dukungan penuh dari para penggemar.
Kultur Negativitas: Musuh Terbesar Sepak Bola Modern
Football Daily menyoroti bahwa budaya negatif yang berkembang di sekitar sepak bola modern, termasuk di lingkungan Rangers, adalah masalah yang mengkhawatirkan. Banyak orang lebih memilih untuk benar dalam kritiknya daripada bahagia dengan hasil yang ada di lapangan. Sikap pesimistis yang berlebihan ini bahkan diibaratkan sebagai “fatberg”—gumpalan lemak raksasa di saluran pembuangan—yang menyumbat ruang diskusi yang sehat di dunia sepak bola.
Padahal, empat pertandingan adalah waktu yang terlalu singkat untuk menilai kapasitas seorang manajer. Dua di antaranya bahkan terjadi di kompetisi yang peluang Rangers memenangkannya memang sudah tipis sejak awal. Menghakimi McInnes sedini ini sama saja dengan melempar mainan keluar dari kereta dorong hanya karena belum melihat hasil instan—sebuah perilaku yang sayangnya makin umum di tengah budaya serba cepat saat ini.
Yang dibutuhkan saat ini adalah kesabaran dan perspektif yang lebih jernih. Sejarah telah menunjukkan bahwa para manajer hebat Rangers pun pernah melewati awal yang buruk, tetapi tetap berakhir dengan trofi di tangan. Apakah McInnes akan mengikuti jejak mereka? Jawabannya hanya akan terbukti seiring berjalannya musim.
Kabar Lain dari Dunia Sepak Bola
Selain kisah Rangers, ada beberapa berita menarik lainnya. Pada laga pembuka Championship, Wolves sukses mengalahkan Blackburn 2-0 dalam pertandingan yang bisa disimak melalui live update. Di kancah internasional, Andrew Giuliani, pejabat dari gugus tugas White House untuk Piala Dunia, melontarkan pernyataan kontroversial terkait pemilihan presiden FIFA—ia menyebut bahwa siapa pun yang tidak memilih Gianni Infantino secara aklamasi “perlu diperiksa kepalanya”.
Di bagian surat pembaca, ada pula keluhan khas penggemar soal ketimpangan finansial. Dave Hill misalnya menyoroti bagaimana Arsenal siap menggelontorkan €30 juta untuk Ezri Konsa sebagai pelapis lini belakang, sementara klubnya, Exeter City, sedang kesulitan
