Kebijakan baru Como langsung menyita perhatian pecinta sepak bola Italia. Klub Serie A yang musim lalu mengejutkan dengan lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya akan mencabut tiket musiman dari pendukung yang tidak menghadiri lebih dari tiga pertandingan kandang tanpa alasan yang sah. Selain itu, Como juga melarang penonton memakai seragam atau syal tim lawan di seluruh area stadion, kecuali di sektor pendukung tandang.
Langkah ini nyatanya memicu perdebatan sengit. Ketua Como, Mirwan Suwarso, menyebut permintaan tiket jauh melampaui pasokan sehingga klub perlu memastikan tiket Stadion Giuseppe Sinigaglia sampai ke tangan pendukung yang benar-benar setia. Sebaliknya, banyak penggemar menilai aturan ini terlalu ketat dan tidak mempertimbangkan kondisi pribadi suporter.
Kebijakan Baru Como dan Aturan Stadion
Aturan baru Como setidaknya memuat dua poin utama. Pertama, pemegang tiket musiman yang absen lebih dari tiga laga kandang tanpa alasan yang dianggap valid oleh klub berisiko dicabut haknya. Kedua, atribut tim lawan seperti jersey dan syal hanya boleh digunakan di sektor pendukung tandang.
- Pemegang tiket musiman bisa kehilangan tiket jika melewatkan lebih dari tiga pertandingan kandang tanpa alasan sah.
- Seragam, syal, dan simbol tim lawan dilarang digunakan di semua bagian stadion kecuali sektor tandang.
Klub mengumumkan kebijakan ini pada Senin melalui pernyataan resmi. Meski tujuannya disebut untuk melindungi atmosfer kandang, banyak pihak menilai ketentuan ini terlalu kaku. Para suporter pun mulai mempertanyakan bagaimana klub akan menentukan alasan yang dianggap sah.
Alasan Klub di Balik Kebijakan
Dalam sebuah pernyataan panjang di Instagram, Mirwan Suwarso menjelaskan bahwa tingginya permintaan tiket menjadi alasan utama langkah ini diambil. “Permintaan tiket jauh melebihi pasokan dan, karena itu, saya meminta klub untuk mencari cara agar tiket Stadion Giuseppe Sinigaglia berakhir di tangan pendukung asli Como,” ujarnya. Ia juga menyoroti terlalu seringnya suporter tim lawan merayakan kemenangan di sektor rumah, sementara pendukung Como yang ingin hadir justru kesulitan mendapatkan tiket.
Suwarso menegaskan bahwa larangan atribut tim lawan diterapkan demi keamanan. “Tujuan kami adalah menjadikan Sinigaglia rumah sejati bagi penggemar kami dan benteng bagi tim kami,” katanya. Ia ingin stadion tetap menjadi tempat yang nyaman bagi kakek-nenek untuk membawa cucu, keluarga untuk menikmati sepak bola bersama, dan semangat yang tidak berubah menjadi tindakan tidak hormat.
Kritik dan Kekhawatiran Suporter
Di media sosial, banyak penggemar mengkritik kebijakan ini sebagai langkah yang terlalu keras. Mereka berargumen bahwa pekerjaan, masalah kesehatan, atau tanggung jawab keluarga dapat membuat seseorang absen dari pertandingan tanpa mengurangi loyalitasnya. Dengan kata lain, absen dari stadion tidak otomatis berarti seseorang bukan pendukung setia.
Koran lokal La Provincia melaporkan bahwa redaksinya menerima puluhan telepon dan email dari suporter yang cemas. “Sebagian khawatir dengan masalah kesehatan atau tidak bisa hadir karena cuaca buruk, serta orang-orang yang sering bepergian untuk bekerja,” tulis La Provincia. “Mereka ketakutan dan semua menanyakan hal yang sama: akankah tiket musiman kami diambil?”
Corriere della Sera, koran nasional Italia, juga mengutip reaksi suporter di media sosial. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah, “Apakah kita perlu ditemani orang tua ketika menyerahkan alasan, seperti di sekolah?” Pernyataan itu menggambarkan betapa kaku dan terasa seperti aturan sekolah bagi sebagian suporter.
Dampak Bagi Suporter dan Klub
Kebijakan baru Como menciptakan dilema antara menjaga atmosfer kandang dan menghormati kondisi suporter. Bagi pendukung yang sering bepergian untuk bekerja atau memiliki masalah kesehatan, ancaman pencabutan tiket musiman menjadi beban psikologis tambahan. Mereka kini merasa harus membuktikan status sebagai pendukung setia lewat kehadiran fisik di stadion.
Di sisi lain, klub ingin menghentikan kebiasaan pendukung tim lawan yang merayakan kemenangan di sektor rumah. Jika kebijakan ini berhasil, Sinigaglia bisa menjadi benteng yang lebih sulit ditembus oleh tim tamu. Namun, tanpa mekanisme yang jelas untuk menilai alasan ketidakhadiran, kebijakan ini berpotensi memicu ketidakpuasan yang lebih luas.
Konteks Lebih Luas: Perjalanan Como dari Serie D
Untuk memahami besarnya perhatian terhadap kebijakan ini, kita perlu melihat perjalanan Como. Pada musim 2018-19, Como masih berlaga di Serie D, kasta keempat sepak bola Italia, setelah dua kali bangkrut dalam 15 tahun sebelumnya. Kini, klub kecil asal Italia utara itu berdiri di ambang panggung terbesar sepak bola Eropa.
Musim lalu, Como finis di posisi keempat setelah melalui kampanye yang luar biasa. Tim asuhan mantan gelandang Arsenal, Cesc Fàbregas, mencatat serangkaian penampilan mengesankan yang mengejutkan dunia sepak bola. Keberhasilan itu melambungkan popularitas klub dan membuat permintaan tiket meningkat tajam, sehingga pengelolaan stadion pun menjadi perhatian utama.
Kebijakan baru Como lahir dari keinginan menjaga stadion tetap terasa seperti rumah sendiri. Namun, jika tidak disertai komunikasi yang baik, kebijakan ini justru bisa menjauhkan suporter yang selama ini setia. Kini publik menunggu langkah berikutnya dari Como untuk menjawab kekhawatiran para pendukungnya.
