Leicester di League One: Dibuat Kelabakan oleh Notts County
Leicester City langsung mendapat pelajaran pahit di pekan pembuka League One setelah tampil kalah gigih dan kalah semangat dari Notts County. Tim asuhan Russell Martin itu sempat unggul lewat Jayden Joseph, tetapi keunggulan tersebut tidak bertahan karena tuan rumah berhasil menyamakan kedudukan melalui Conor Grant. Hasil ini menjadi pengingat awal bahwa kehidupan di kasta ketiga sama sekali tidak semudah yang dibayangkan para pengamat.
Laga ini merupakan pertemuan liga pertama kedua klub sejak 1994, yang menunjukkan betapa jauhnya jalur keduanya selama 32 tahun terakhir. Notts County baru kembali ke level ini untuk pertama kalinya sejak musim 2014-15, sementara Leicester datang dengan status klub yang pernah menjuarai Premier League satu dekade lalu. Namun, dalam derbi East Midlands yang langka ini, status dan sejarah justru tidak banyak membantu Leicester menghadapi tekanan lawan.
Leicester di League One: Dibuat Kelabakan oleh Notts County
Sejak menit awal, niat Russell Martin membangun serangan dari belakang justru menjadi fondasi rapuh performa Leicester. Dalam enam menit pertama, Ollie Cooper sudah membuat tuan rumah unggul secara mental dengan menjegal Alex McCarthy yang lamban bereaksi, sebelum bola memantul dari mistar gawang. Momen itu menjadi sinyal awal bahwa lini belakang Leicester akan menghadapi kesulitan besar sepanjang laga.
McCarthy dan duet bek tengah Caleb Okoli serta Harry Souttar berkali-kali kehilangan bola di sekitar kotak penalti. Kesalahan demi kesalahan ini diciptakan sendiri oleh tim tamu, bukan lahir dari tekanan mati-matian lawan, sehingga terasa semakin menyakitkan. Bahkan, kompilasi aksi defensif yang konyol itu dengan cepat viral di media sosial dan menjadi bahan ejekan publik.
Jayden Joseph sempat memberikan Leicester keunggulan yang sebenarnya tidak layak mereka dapatkan. Namun, gol tersebut tidak memicu perbaikan pola permainan, dan Leicester akhirnya kebobolan melalui cara yang sama, yakni ketidakmampuan bereaksi cepat terhadap situasi berbahaya. Conor Grant yang tidak dijaga sama sekali dengan leluasa menyambar bola di kotak enam yard untuk memaksa skor menjadi imbang.
Derbi Langka yang Memperlihatkan Jurang Sejarah
Ini adalah pertemuan liga pertama kedua klub sejak 1994, ketika perjalanan mereka masih bisa disebut sejajar. Setelah itu, Leicester melesat hingga menjuarai Premier League satu dekade lalu, sementara Notts County justru terpuruk ke divisi-divisi bawah dan sempat menghabiskan empat tahun di National League. Kini keduanya bertemu lagi di League One, dan County membuktikan bahwa kebangkitan mereka bukan sekadar pelengkap kompetisi.
Sebagian besar dari 17.172 penonton yang memenuhi stadion larut dalam euforia kebangkitan tim kesayangan mereka. Suporter Leicester yang melakukan perjalanan singkat juga ingin menunjukkan bahwa kesetiaan tidak ditentukan oleh trofi dan kesuksesan semata. Mereka bahkan meluapkan ketidakpuasan terhadap pemilik klub yang dianggap membiarkan Leicester terjerembap ke kondisi sekarang.
Ketidakpastian di Dalam dan Luar Lapangan
Kekacauan di lini pertahanan Leicester sebenarnya selaras dengan situasi klub secara keseluruhan yang sedang dilanda ketidakpastian. Sebuah brosur penjualan telah disiapkan untuk memasarkan klub dalam proses akuisisi, meskipun Martin mengaku belum mendapat arahan resmi bahwa Leicester benar-benar dijual. Laporan menyebut pemilik King Power menginginkan dana lebih dari £200 juta, tetapi angka itu dinilai sulit dicapai mengingat kondisi aset yang sedang tertekan.
- Leicester memiliki pusat latihan senilai £100 juta.
- Oliver Skipp diboyong dengan biaya £20 juta.
- Notts County berlatih di universitas setempat.
- Rekrutan termahal County pada musim panas ini hanya £200.000.
Jurang anggaran yang sangat lebar ini nyatanya tidak membuat Leicester otomatis unggul di atas lapangan. County datang dengan keterbatasan fasilitas dan dana, tetapi justru tampil lebih hidup dan terorganisasi. Sebaliknya, Leicester yang sarat dengan nilai aset mahal tampil rapuh dan tanpa karakter.
Leicester di League One: Pemain Muda Jadi Sinar Harapan
Di tengah kekacauan yang terjadi, ada satu sisi positif yang patut dicatat, yakni terbukanya kesempatan bagi talenta muda. Will Alves, Jayden Joseph, dan Sammy Braybrooke dipercaya menjadi starter dan justru tampil paling lihai dalam situasi sulit. Sementara itu, rekan-rekan mereka yang lebih terkenal justru cenderung menghindari pertarungan sengit di lapangan.
Ketiga pemain muda tersebut menghabiskan musim lalu dengan status pinjaman di kasta ketiga atau keempat, pengalaman yang terbukti sangat cocok untuk kompetisi League One. Di sisi lain, rekrutan mahal asal Premier League seperti Okoli dan Skipp tidak mampu tampil sesuai ekspektasi, sementara lini depan Leicester juga tumpul. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengalaman di level bawah bisa jauh lebih berharga daripada sekadar harga transfer yang tinggi.
Situasi skuad memang tidak mudah karena pemain-pemain terbaik cepat dijual setelah degradasi untuk mendatangkan dana. Stephy Mavididi dan Wout Faes bahkan absen pada laga ini setelah menerima tawaran dari klub lain, sementara sang kapten, Harry Souttar, juga diminati sejumlah klub Championship. Dengan skuad yang tidak stabil dan sarat pemain muda, pendekatan pragmatis sebenarnya dibutuhkan, tetapi itu bukanlah gaya yang dimiliki Martin.
Kata Russell Martin: Masih Banyak Pekerjaan Rumah
Russell Martin tidak menutup mata terhadap buruknya performa timnya di Meadow Lane. “Kami punya banyak hal untuk dipelajari dan kami akan menjadi lebih baik karenanya, jauh lebih baik,” ujar Martin. Ia juga mengatakan bahwa kecemasan mulai menyusup ke permainan tim ketika atmosfer stadion berubah, dan itu menjadi pelajaran terbesar bagi para pemainnya.
“Sedikit kecemasan mulai menyusup, atmosfer di stadion berubah, dan itulah pelajaran terbesar bagi kami. Jika kami tidak saling menjaga dengan bola, seperti yang terjadi di akhir laga, maka itu tidak cocok untuk kami,” jelas Martin. Pelatih asal Skotlandia itu juga mengingatkan bahwa laga ini bukanlah pertandingan yang mudah. Apalagi laga ini disiarkan langsung oleh Sky dan dimainkan dengan kick-off yang lebih awal, melawan tim promosi yang lokasinya hanya berjarak dekat.
“Saya sudah bilang ke orang-orang bahwa ini tidak akan mudah. Hari pertama musim, kami mendapat hasil yang gila-gilaan. Ini bukan laga yang mudah di Sky, kick-off awal, melawan tim yang promosi tahun lalu, dan lokasinya dekat. Kami menerimanya dan melanjutkan perjalanan, dan kami harus berkembang pekan depan,” kata Martin.
Leicester tidak bisa lagi berpikir bahwa kesuksesan masa lalu akan otomatis membawa mereka kembali ke Premier League atau mempercepat proses penjualan klub. Salah satu nilai jual utama klub dalam brosur penjualan adalah “sejarah panjang 140 tahun” mereka, tetapi penampilan di Meadow Lane ini bahkan tidak layak menjadi catatan kaki. Klub ini sedang berada dalam masa transisi yang penuh ketidakpastian, baik di dalam maupun di luar lapangan. Jika mereka berharap kunjungan ke Meadow Lane menjadi awal kebangkitan, maka harapan itu jelas keliru besar.
