Alessia Russo: Cinta Arsenal yang Tumbuh di Parade Juara

Alessia Russo mengaku menjalani momen terbaik dalam hidupnya saat parade kemenangan Arsenal di jalan-jalan London utara. Berdiri di depan bus dengan lengan bertumpu pada palang, mengenakan kacamata hitam, dan memegang minuman di satu tangan, penyerang Arsenal itu ikut bernyanyi dan bersorak bersama para penggemar. Parade sepanjang sembilan kilometer yang dipenuhi asap merah itu merayakan keberhasilan tim pria Arsenal meraih gelar Premier League sekaligus kesuksesan tim wanita Arsenal di Champions Cup.

LONDON COLNEY, ENGLAND – SEPTEMBER 05: Alessia Russo of Arsenal during the Arsenal Women’s Press Conference at Sobha Realty Training Centre on September 05, 2025 in London Colney, England. (Photo by David Price/Arsenal FC via Getty Images)

Meski banyak yang menganggapnya sebagai pendukung setia Arsenal sejak kecil, Russo sebenarnya bukanlah “childhood Gooner”, julukan yang kerap menjadi bahan lelucon di kalangan penggemar. Lelucon itu semakin menguat ketika foto keluarga Russo kecil yang memegang Piala FA diedit, dari awalnya mengenakan seragam Manchester United menjadi seragam Arsenal. Namun kini, pemain berusia 27 tahun itu dengan cepat menjelma menjadi penggemar dewasa yang sungguh-sungguh mencintai klubnya.

Pengalaman Tak Terlupakan di Parade Kemenangan

Russo menggambarkan parade tersebut sebagai salah satu pengalaman paling luar biasa yang pernah ia rasakan. Ia menikmati setiap momen, mulai dari atmosfer suporter hingga keberhasilan tim pria Arsenal yang telah bekerja keras selama bertahun-tahun. “Saya menikmati hidup saya hari itu,” ujarnya. “Itu benar-benar hari yang sangat istimewa.”

Satu hal yang membuat momen itu semakin bermakna adalah kehadiran rekan-rekan setimnya, Lotte Wubben-Moy dan Leah Williamson, yang memang penggemar berat Arsenal sejak lama. Russo mengaku bahwa bergabung dengan Arsenal membuatnya ikut menyerap kecintaan terhadap klub tersebut. “Saat Anda datang ke Arsenal, Anda mengambil bagian dari klub ini dan mulai memahami serta menyerap kecintaan mereka kepada Arsenal,” katanya.

Russo juga mengungkapkan bahwa momen seperti inilah yang akan selalu terkenang dalam kariernya. “Anda memilih momen ketika memenangkan trofi sebagai yang utama dalam karier, tapi parade ini pasti akan selalu menonjol bagi saya,” ucapnya. Suasana parade yang meriah, dengan orang-orang di setiap balkon, atap, hingga lampu lalu lintas, menunjukkan betapa besarnya kecintaan publik terhadap Arsenal.

Lelucon “Childhood Gooner” yang Kini Menjadi Kenyataan

Lelucon tentang Russo sebagai penggemar Arsenal sejak kecil berawal dari unggahan foto keluarga yang memperlihatkan Russo kecil tengah memegang Piala FA. Foto tersebut kemudian diedit oleh penggemar sehingga seragam Manchester United yang dikenakan Russo berubah menjadi seragam Arsenal. Hal ini pun menjadi bahan candaan yang terus berkembang di kalangan suporter.

Meskipun bukan pendukung Arsenal sejak kecil, Russo mengaku mustahil untuk tidak ikut mendukung klub yang ia bela sekarang. “Sejak saya bergabung dengan klub dan melihat orang-orang di sekeliling tempat ini, mustahil untuk tidak menjadi bagian dari Arsenal dan merasa bahwa saya mendukung Arsenal,” tuturnya. Ia bahkan menyatakan dukungan penuhnya kepada Arsenal dalam berbagai hal, termasuk saat merayakan keberhasilan tim pria meraih gelar Premier League.

Kontras dengan parade-parade Arsenal pada era 1990-an dan awal 2000-an, parade tahun ini dihadiri begitu banyak anak perempuan dari berbagai usia. Fenomena ini menunjukkan perkembangan pesat minat terhadap sepak bola wanita dalam beberapa tahun terakhir. Russo sendiri sangat peduli dengan tumbuhnya generasi baru yang tertarik menonton dan bermain sepak bola.

Fondasi Russo dan Inisiatif Kick On untuk Sepak Bola Wanita

Kepedulian Alessia Russo terhadap perkembangan sepak bola wanita mendorongnya meluncurkan yayasan sendiri pada tahun ini. Ia juga membantu meluncurkan tahun kelima program Kick On dari Starling Bank, sebuah inisiatif yang mempertemukan bisnis lokal dengan tim sepak bola putri yang membutuhkan sponsor. Program ini mensubsidi biaya sponsor di bagian depan jersey tim-tim tersebut.

Starling Bank melakukan survei terhadap 1.000 pemain wanita dewasa, 1.010 pemain wanita berusia 11-17 tahun, 501 pemimpin usaha kecil dan menengah, serta 1.092 pelatih sepak bola akar rumput. Hasilnya, hampir seluruh klub sepak bola wanita akar rumput, yakni 97 persen, menyatakan tim mereka membutuhkan dana tambahan. Akibatnya, kesempatan bagi anak-anak perempuan untuk bermain sepak bola ikut terdampak.

  • Sebanyak 76 persen pemain wanita mengaku akan terpaksa berhenti dari tim atau meninggalkan olahraga ini sama sekali jika pendanaan tambahan tidak didapatkan dalam lima tahun ke depan.
  • Sementara itu, 40 persen pemain wanita menyatakan tim mereka tidak menerima pendanaan sebesar tim pria.
  • Hampir semua klub akar rumput sepakat bahwa kebutuhan dana menjadi persoalan paling mendesak.

“Statistik itu cukup menyedihkan, sungguh disayangkan mengingat pertumbuhan yang kita lihat dalam sepak bola wanita,” kata Russo. “Selama lima atau enam tahun terakhir, pertumbuhannya sungguh luar biasa, tapi masih ada pekerjaan rumah di akar rumput untuk membangunnya.” Ia menegaskan bahwa fondasi di tingkat akar rumput harus diperkuat agar pertumbuhan yang sudah terjadi tidak sia-sia.

Misi Russo: Jangan Sampai Kehilangan Bintang Masa Depan

Risiko terbesar dari minimnya pendanaan adalah hilangnya momentum sepak bola wanita dan gagalnya menarik calon pemain bintang ke jalur pembinaan. Russo menegaskan bahwa sepak bola tidak boleh kehilangan generasi penerus seperti Leah Williamson atau Lotte Wubben-Moy hanya karena tidak ada tim lokal atau tim yang mereka ikuti bubar. Menurutnya, masalah ini seharusnya mudah diatasi karena tim tidak membutuhkan banyak hal, namun kenyataannya masalah ini masih terus berlanjut.

Russo sendiri merupakan produk dari perjalanan sepak bola akar rumput yang panjang. Ia mengaku masih berteman dengan banyak orang yang ditemuinya selama meniti karier dari bawah. “Jika bisnis lokal bisa berinvestasi pada satu tim, siapa tahu Anda bisa membantu melahirkan bintang yang kariernya luar biasa dan akan selalu mengingat Anda sebagai bagian dari perjalanan itu,” ujarnya.

Lebih dari sekadar investasi finansial, keterlibatan bisnis lokal dalam tim putri memiliki makna yang lebih dalam. Russo menekankan bahwa para pendukung bisa memiliki peran dalam bagian inti perjalanan hidup anak-anak perempuan tersebut. “Ada lebih dari sekadar investasi, yaitu Anda bisa memiliki suara dalam bagian inti perjalanan dan kehidupan anak-anak perempuan ini,” katanya.

Musim Panas Langka: Waktu Istirahat dan Menjadi Penggemar

Tanpa turnamen besar internasional wanita pada musim panas ini, Russo menikmati liburan musim panas yang langka. Ia mengaku sangat membutuhkan waktu istirahat setelah beberapa tahun terakhir dihiasi banyak pertandingan dan turnamen. “Penting bagi saya untuk benar-benar punya waktu istirahat yang layak,” ujarnya. “Selama beberapa tahun terakhir, menit bermain dan turnamen terus bertambah, jadi saya perlu menjaga tubuh dan membuat diri saya berada di tempat yang baik secara mental.”

Russo mematikan aktivitasnya selama sekitar dua setengah minggu dan menghabiskan waktu bersama teman serta keluarga. Meski demikian, ia mengaku sudah siap kembali berlatih di akhir masa istirahatnya. “Saya cukup menikmati latihan sendiri selama musim panas, Anda jadi tahu rutinitas dan kebiasaan terbaik Anda,” katanya.

Di sela-sela istirahatnya, Russo juga sempat menonton pertandingan Inggris melawan Panama di New York dan merasakan atmosfer Piala Dunia sebagai penggemar biasa. Ia juga menghadiri pesta lajang dan pernikahan rekan setimnya di timnas Inggris, Ella Toone. Momen-momen ini memberinya kesempatan untuk menjadi perempuan berusia 27 tahun yang normal, pergi berlibur, dan menikmati hidup.

Musim 2025-26 dan Target Trofi bersama Arsenal

Russo menjalani musim 2025-26 yang gemilang, dan banyak pihak menilai permainannya meningkat satu level baik di level klub maupun timnas. Namun, ia menegaskan bahwa dirinya tetap menilai kesuksesan dari trofi yang dimenangkan tim. “Saya senang dengan musim saya bersama Arsenal dan Inggris dari sudut pandang pribadi, tapi pada akhirnya saya akan selalu menilai dari trofi yang kami menangkan,” ucapnya.

Arsenal disebutnya telah belajar banyak dalam beberapa tahun terakhir dan kini sangat lapar akan musim baru. Pelatih Renée Slegers telah menetapkan standar tinggi selama pramusim, dan tim memiliki tujuh pemain baru yang siap bersaing. “Kami ingin melakukan segalanya untuk menjadi tim yang paling mampu memenangkan WSL,” tegas Russo.

Dengan skuad yang siap melaju dan persaingan internal yang ketat, Russo merasa bahagia tetapi tidak berpuas diri. Ia ingin terus mendorong dirinya bersama Arsenal dan Inggris untuk memenangkan lebih banyak trofi. “Saya merasa bahagia, tapi sekarang saya ingin terus maju bersama Arsenal dan Inggris dan memenangkan beberapa trofi,” pungkasnya.

Dari parade kemenangan yang tak terlupakan hingga perjuangannya di akar rumput, Alessia Russo telah membuktikan bahwa cintanya kepada Arsenal lahir dari pengalaman nyata. Kini ia tidak hanya menjadi bagian dari klub raksasa London utara, tetapi juga menjadi penggerak perubahan bagi generasi berikutnya. Dengan semangat yang sama seperti saat bersorak di atas bus parade, Russo siap menghadapi musim baru bersama Arsenal.

Perjalanan Russo menunjukkan bahwa cinta kepada sebuah klub bisa tumbuh dari pengalaman langsung, bukan sekadar warisan masa kecil. Kecintaannya pada Arsenal kini berpadu dengan misi besarnya untuk memastikan sepak bola wanita tumbuh kuat dari akar rumput. Dengan target trofi di depan mata, kisah Russo bersama Arsenal akan terus menjadi salah satu narasi paling menarik di sepak bola wanita Inggris.