Everton WSL 2026-27 dimulai dengan harapan baru setelah klub resmi menunjuk Scott Phelan sebagai manajer tetap pada Juni lalu. Meski begitu, tidak ada pihak di klub yang terbawa euforia, terutama karena prediksi rata-rata jurnalis Guardian menempatkan Everton di peringkat ke-10 klasemen akhir musim ini. Musim lalu Everton finis di posisi kedelapan, dan hasil serupa musim ini akan dianggap sebagai pencapaian yang solid.
Optimisme yang muncul tidak lepas dari situasi finansial yang membatasi langkah klub di bursa transfer. Laporan keuangan terbaru menunjukkan tagihan gaji Everton lima kali lebih kecil dibandingkan Chelsea, sebuah gambaran nyata tentang kesenjangan ekonomi di Women’s Super League. Keputusan menjual tim wanita ke perusahaan induk tim pria, Roundhouse Capital Holdings, juga menjadi bagian dari langkah strategis yang mewarnai persiapan musim ini.
Everton WSL 2026-27: Target Realistis di Tengah Keterbatasan Anggaran
Musim ini menjadi musim penuh pertama bagi Everton dengan skuad yang dirombak cukup signifikan. Dari Leicester City yang terdegradasi, Everton mendatangkan Jutta Rantala, Noémie Mouchon, dan Hannah Cain secara gratis. Selain itu, status pinjaman gelandang Slovenia Zara Kramzar dari Roma juga diubah menjadi transfer permanen.
Salah satu kisah menarik datang dari proses transfer Hannah Blundell dari Manchester United. Bek berusia 32 tahun itu awalnya bergabung dengan status pinjaman musim lalu, dan kini kontraknya dipermanenkan. Pengumuman ini sempat menjadi perbincangan karena Blundell muncul dari peti mati dadakan dalam acara World Sevens Football di London pada Mei lalu.
Dengan komposisi skuad yang diperbarui, Everton diharapkan mampu bersaing di papan tengah. Namun, semua pihak menyadari persaingan di WSL semakin ketat, terutama dengan dominasi finansial klub-klub papan atas. Karena itu, target realistis menjadi kata kunci di tubuh klub asal Merseyside ini.
Latar Belakang: Scott Phelan dan Perubahan Struktur Klub
Scott Phelan resmi ditunjuk sebagai manajer pada Juni setelah menjalani empat bulan sebagai pelatih interim. Pria berusia 38 tahun yang pernah menjadi gelandang muda Everton ini menggantikan Brian Sørensen yang dipecat. Ini menjadi pekerjaan manajer senior pertamanya setelah sebelumnya berkarier sebagai pelatih di akademi putra Everton.
Perubahan Kepemilikan dan Fasilitas
Di luar lapangan, tim wanita Everton dijual kepada Roundhouse Capital Holdings, perusahaan induk yang juga menaungi tim pria, pada tahun lalu. Langkah ini dipahami sebagai upaya membantu tim pria memenuhi aturan profitabilitas dan keberlanjutan (PSR) Premier League. Meski demikian, fasilitas yang digunakan tim wanita tetap menjadi salah satu yang terbaik di WSL.
Tim wanita berlatih di kompleks Finch Farm di Halewood, berbagi lokasi dengan tim pria. Fasilitas ini kerap disebut-sebut sebagai salah satu yang paling lengkap di antara klub-klub WSL. Kombinasi antara fasilitas memadai dan struktur kepemilikan baru menjadi modal bagi Everton untuk membangun masa depan yang lebih stabil.
Analisis Dampak: Awal Musim yang Bersahabat Wajib Dimanfaatkan
Jadwal awal musim ini terbilang cukup ramah bagi Everton. Mereka memulai dengan dua laga beruntun melawan tim promosi, Crystal Palace dan Charlton Athletic. Laga kandang kedua di liga juga akan menjamu tim promosi lainnya, Birmingham City.
Di sela-sela itu, Everton bertemu West Ham serta Liverpool, tetangga sekota mereka, yang masing-masing finis di posisi ke-10 dan ke-11 musim lalu. Menariknya, Everton tidak akan menghadapi tim peringkat tiga besar musim lalu hingga November. Karena itu, mereka diharapkan bisa memulai dengan cepat dan mengumpulkan banyak poin sebelum memasuki rangkaian laga yang lebih berat menjelang jeda musim dingin.
Dari sisi serangan, Everton punya lini depan yang benar-benar baru. Holly McNamara, penyerang Australia yang didatangkan gratis dari Melbourne City, menjadi sorotan utama setelah memenangkan dua Golden Boot beruntun di A-League. Jika McNamara bisa mengulang ketajaman mencetak golnya di belahan bumi utara, ia bersama Cain dan Mouchon bisa mengubah wajah serangan Everton. Bek tengah muda Inggris Hannah Silcock yang direkrut dari Liverpool juga dinilai sebagai pembelian yang cerdik.
Konteks Lebih Luas: Statistik, Kandidat Terobosan, dan Markas
Data statistik musim lalu menunjukkan gambaran menarik tentang gaya bermain Everton. Meski mencatat jumlah tembakan ketiga terendah, Everton justru memiliki jumlah serangan balik (fastbreak) ketiga terbanyak menurut catatan Opta. Mereka juga menjadi tim dengan koleksi gol terbanyak dari skema tersebut, yakni empat gol, tetapi ketergantungan pada serangan balik saja tidak cukup.
Permainan terbuka Everton masih perlu peningkatan signifikan jika ingin bersaing di papan atas. Inilah pekerjaan rumah utama Phelan bersama staf kepelatihannya. Dengan tambahan pemain baru, harapannya produktivitas lini depan meningkat tanpa kehilangan efektivitas serangan balik.
Naomi Layzell: Bek Muda yang Siap Bersinar
Naomi Layzell datang dengan status pinjaman dari Manchester City dan menjadi salah satu pemain yang dinanti perkembangannya musim ini. Bek tim muda Inggris berusia 22 tahun itu sempat mencuri perhatian setelah mencetak gol melawan Barcelona di Liga Champions Wanita dua tahun lalu. Namun, cedera sempat menghambat kariernya setelah momen tersebut.
Everton berharap Layzell bisa kembali bugar dan membuktikan diri layak menjadi penghuni tetap timnas senior Inggris. Ia sebelumnya pernah dipanggil untuk berlatih bersama skuad asuhan Sarina Wiegman. Jika tampil konsisten sepanjang musim, Layzell bisa menjadi salah satu bek muda terbaik di liga.
Komitmen Pemain dan Markas Kandang
Penjaga gawang Everton, Courtney Brosnan, menegaskan kesiapan tim menghadapi musim ini. Menurutnya, pramusim yang berat secara fisik adalah persiapan yang bagus untuk kompetisi. Ia juga menekankan pentingnya semua pemain berada dalam visi yang sama sejak awal agar hasil di lapangan sesuai dengan target tim.
Soal markas, Everton akan kembali memainkan seluruh laga kandangnya di Goodison Park musim ini setelah pindah ke sana musim panas lalu. Musim lalu mereka sempat tampil sekali di Hill Dickinson Stadium saat kalah dari Manchester United. Belum ada konfirmasi kapan mereka akan kembali bermain di stadion milik tim pria tersebut, tetapi peluang itu disebut masih terbuka.
Kesimpulan
Prakiraan Everton WSL 2026-27 menunjukkan klub ini berada di persimpangan antara harapan dan realita. Di satu sisi, kedatangan Phelan, rekrutan baru, dan jadwal awal yang bersahabat memberi alasan untuk optimistis. Di sisi lain, keterbatasan anggaran dan ketatnya persaingan membuat target papan tengah menjadi ukuran keberhasilan yang paling realistis.
Jika lini serang baru bisa cepat padu dan para pemain kunci seperti Layzell serta McNamara tampil konsisten, bukan tidak mungkin Everton melampaui prediksi para jurnalis Guardian. Namun, yang jelas, perjalanan Everton musim ini akan menjadi ujian seberapa jauh ambisi bisa berjalan beriringan dengan keterbatasan yang ada. Semua mata kini tertuju pada Phelan dan skuad barunya untuk membuktikan bahwa optimisme itu bukan sekadar harapan kosong.
