Legenda sepak bola Inggris dan pemenang Piala Dunia 1966, Nobby Stiles, meninggal dunia akibat kondisi otak yang dipicu oleh kebiasaan menyundul bola secara berulang. Keputusan ini diumumkan oleh koroner dalam sidang di Stockport pada Rabu lalu. Meski Stiles tutup usia pada 2020 lalu, kasusnya baru disidangkan setelah keluarga besarnya terus mendesak investigasi penuh.
Stiles dikenal sebagai gelandang tangguh dan agresif yang disebut Geoff Hurst sebagai “jantung dan jiwa” tim juara dunia 1966. Namun di akhir hayatnya, ia berjuang melawan Alzheimer dan harus menjual medali juara dunianya untuk membiayai perawatan. Menurut analisis otak, selain Alzheimer, Stiles juga menderita Chronic Traumatic Encephalopathy (CTE), penyakit neurodegeneratif yang sering dikaitkan dengan trauma kepala akibat menyundul bola.
Penyebab Kematian Nobby Stiles: CTE Akibat Heading Berulang
Temuan Koroner
Koroner senior South Manchester, Alison Mutch, menyatakan bahwa kematian Stiles yang berusia 78 tahun diperparah oleh kondisi otak yang timbul karena “berulang kali menyundul bola sepak”. Dalam sidang, terungkap bahwa selama kariernya bersama Manchester United dan tim nasional Inggris, Stiles diperkirakan telah menyundul bola sebanyak 140.000 kali. Angka ini menjadi bukti kuat bahwa aktivitas heading yang ekstrem dapat memicu kerusakan otak permanen.
Kesaksian Ahli Neuropatologi
Dr. Daniel Du Plessis, pakar neuropatologi yang memeriksa jaringan otak Stiles, memberikan pernyataan tegas di pengadilan. Ia mengaku “cukup yakin” bahwa kebiasaan menyundul bola sebanyak itu telah menyebabkan CTE pada Stiles. Ketika ditanya oleh koroner apakah heading berulang adalah penyebab CTE, Du Plessis menjawab singkat, “Ya.” Pernyataan ini menjadi salah satu pengakuan medis paling eksplisit yang menghubungkan heading bola dengan cedera otak kronis pada pemain sepak bola.
Perjuangan Keluarga dan Tuntutan Hukum
Putra Nobby Stiles, John Stiles, yang juga menjabat sebagai ketua kelompok Football Families for Justice (FFJ), mengatakan bahwa ayahnya adalah sosok yang “sangat rendah hati” meski berprestasi gemilang. “Dia tidak pernah berubah. Jika Anda masuk ke rumahnya, Anda tidak akan tahu dia seorang pesepakbola. Keluarga adalah prioritas utama,” ungkap John dalam sidang. Ia menambahkan bahwa ayahnya tidak pernah membanggakan statusnya sebagai juara dunia. “Kami justru lebih bangga pada sosok ayah daripada pemain bolanya.”
John juga menyoroti kondisi bola di era ayahnya yang berbobot sekitar 450 gram (16 ons) dan menjadi lebih berat saat basah. Hal ini memperparah dampak setiap benturan di kepala. Keluarga Stiles bersama puluhan mantan pemain dan keluarga lainnya kini menggugat The Football Association (FA), Asosiasi Sepak Bola Wales, dan English Football League atas tuduhan “lalai dan melanggar kewajiban perawatan” terhadap mantan pemain.
Dampak Heading Bola pada Pemain Lain
Kasus Stiles bukan satu-satunya. Pada Januari lalu, sidang koroner untuk Gordon McQueen, mantan bek Skotlandia, Manchester United, dan Leeds United yang meninggal di usia 70 tahun, juga menyimpulkan bahwa menyundul bola “kemungkinan besar” berkontribusi pada cedera otak yang menjadi faktor kematiannya. McQueen juga didiagnosis menderita CTE. Dua kasus ini memperkuat gelombang tuntutan hukum yang mendorong otoritas sepak bola untuk lebih serius menangani perlindungan pemain dari risiko jangka panjang heading bola.
Dalam perkara Stiles, fakta bahwa kematiannya tidak langsung dilaporkan ke kantor koroner pada 2020 menunjukkan adanya celah dalam sistem pelaporan kasus kematian mantan atlet. Kini, setelah investigasi selesai, publik berharap ada perubahan kebijakan yang lebih ketat terkait penggunaan heading dalam latihan dan pertandingan, terutama di level junior.
Kesimpulannya, kematian Nobby Stiles menjadi pengingat tragis bahwa dampak heading bola tidak bisa dianggap remeh. Dengan bukti medis yang semakin kuat, tuntutan keadilan dari keluarga korban terus bergulir, dan dunia sepak bola diharapkan segera mengambil langkah nyata untuk melindungi generasi pemain mendatang dari risiko serupa.
