Ken Bates Meninggal Dunia: Kisah Kontroversial Mantan Bos Chelsea

Ken Bates, mantan pemilik dan ketua Chelsea yang dikenal penuh warna dan kontroversi, meninggal dunia pada usia 94 tahun. Kabar duka ini diumumkan langsung oleh Chelsea FC pada Sabtu sore waktu setempat. Bates menghembuskan napas terakhir dengan tenang di kediamannya di Monako, ditemani sang istri dan keluarga.

Sosok Kontroversial di Sepak Bola Inggris

Bates bukanlah nama asing dalam sejarah sepak bola Inggris. Selama hampir lima dekade, ia terlibat dalam kepemilikan dan administrasi klub. Namun, warisan terbesarnya tentu saja saat membeli Chelsea pada awal 1980-an, kemudian menjualnya kepada Roman Abramovich pada 2003 – sebuah keputusan yang mengubah wajah sepak bola modern.

Lahir pada Desember 1931, masa kecil Bates tidak mudah. Ibunya meninggal tak lama setelah melahirkan, sementara ayahnya pergi meninggalkannya. Ia dibesarkan oleh kakek-nenek di sebuah flat dewan di Ealing, London barat. Bergelimang mimpi menjadi pemain Queens Park Rangers, ia harus mengubur ambisinya karena kaki pengkor yang memerlukan banyak operasi.

Dari Bisnis ke Sepak Bola

Bates kemudian merintis bisnis sendiri di bidang pengangkutan, penggalian, beton siap pakai, serta peternakan sapi perah. Kesuksesan di dunia bisnis membawanya ke sepak bola. Ia membeli Oldham Athletic pada 1965, lalu Wigan Athletic pada 1980. Namun, langkah terbesarnya terjadi pada 1982 saat ia membeli Chelsea hanya dengan £1.

Harga murah itu tak lepas dari kondisi Chelsea saat itu: terlilit utang parah dan nyaris terdegradasi. Bates melihat peluang. Ia kembali ke London dan mulai membangkitkan klub yang sempat jaya di era 1960-an dan 1970-an. Dengan dana segar, manajer John Neal mendatangkan pemain seperti Kerry Dixon, Pat Nevin, dan David Speedie. Hasilnya, Chelsea kembali ke Divisi Pertama pada 1984.

Perjuangan Mempertahankan Stamford Bridge

Salah satu pencapaian terbesar Bates adalah memenangkan pertarungan hukum melawan pengembang properti Marler Estates. Kemenangan itu membuat hak milik Stamford Bridge beralih ke organisasi yang dipimpin suporter, Chelsea Pitch Owners. Namun, ia juga terlibat kontroversi ketika memasang pagar listrik setinggi 12 kaki di stadion pada 1985 untuk mengatasi penyerbu lapangan. Pagar itu baru dimatikan setelah campur tangan Dewan London Raya atas dasar keselamatan.

Era Keemasan dan Konflik Internal

Di era 1990-an, Bates terlibat perseteruan sengit dengan wakil ketua sekaligus donatur Matthew Harding, yang tewas dalam kecelakaan helikopter pada Oktober 1996. Meski begitu, dengan bantuan dana Harding, Chelsea mengalami masa keemasan. Stamford Bridge direnovasi secara mengesankan, dan tim yang dilatih Glenn Hoddle, Ruud Gullit, dan Gianluca Vialli – serta diperkuat pemain bintang seperti Marcel Desailly, Roberto Di Matteo, dan Gianfranco Zola – meraih banyak trofi, termasuk Piala FA, Piala Liga, dan Piala Winners.

Namun, keberhasilan itu dibayar mahal: utang Chelsea membengkak hingga £80 juta pada musim panas 2003. Bates kesulitan mendanai klub, sehingga ia menerima tawaran Abramovich sebesar £140 juta. Penjualan itu memicu belanja besar-besaran yang mengubah Chelsea menjadi kekuatan besar di Inggris dan Eropa, sekaligus mendongkrak nilai transfer di seluruh dunia.

Karier Pasca-Chelsea dan Kontroversi Lain

Bates tetap menjadi ketua Chelsea hingga Maret 2004. Setahun kemudian, ia membeli 50% saham Leeds United. Ambisinya mengulang sukses di Chelsea, namun hasilnya jauh berbeda. Di bawah kepemimpinannya, Leeds jatuh ke administrasi pada 2007 dengan utang £30 juta, termasuk sekitar £7 juta kepada HMRC. Akibatnya, Leeds dikurangi 10 poin dan terdegradasi ke League One, lalu mendapat pengurangan 15 poin lagi.

Leeds kembali ke Championship pada 2010, tapi gagal tampil di Premier League selama masa Bates. Protes suporter terus berlangsung, hingga akhirnya ia menjual klub ke GFH Capital pada November 2012. Ia pensiun ke Monako pada Juli 2013.

Skandal Rasisme di Chelsea

Pada 2018, komentar Bates atas skandal rasisme di Chelsea menuai kecaman. Sejumlah pemain muda mengaku menjadi korban pelecehan rasial oleh pelatih selama era Bates. Bukannya mendukung korban, Bates justru meragukan motif mereka. “Bau uang ada di udara,” ujarnya. Empat tahun kemudian, Chelsea setuju membayar ganti rugi di luar pengadilan kepada delapan mantan pemain muda yang menggugat.

Warisan Ken Bates

Terlepas dari segala kontroversinya, Bates adalah sosok yang tak bisa dilupakan dalam sepak bola Inggris. Ia juga sempat menjadi pemilik Partick Thistle di pertengahan 1980-an dan menjabat eksekutif di FA hingga 2001. Seperti yang ia katakan dalam wawancara 2024: “Saya punya banyak musuh, tapi saya juga membuat banyak teman saya tertawa. Itulah epitaf saya.” Kini, perjalanan penuh warna itu telah usai.