Setelah Mohamed Salah menikmati kemenangan bersejarah Mesir atas Australia, perhatian langsung beralih ke tantangan berikutnya. Penyerang legendaris yang kini berstatus bebas transfer itu tak bisa menyembunyikan kegembiraannya setelah penalti kakinya yang keras membantu The Pharaohs menang adu penalti di Dallas. “Saya putuskan secara spontan. Saya lebih berpengalaman dari yang lain dan ingin memberi mereka kepercayaan diri,” ujar Salah, yang sebelumnya gagal dalam dua adu penalti terakhir Mesir, termasuk play-off Piala Dunia melawan Senegal empat tahun lalu.
“Saya tak tahu apakah ini Piala Dunia terakhir saya, tapi saya harus melakukannya. Hari ini adalah salah satu hari terbaik dalam hidup saya,” lanjutnya. Ketika awalnya ia menghindari pertanyaan soal kemungkinan bertemu Lionel Messi di babak berikutnya karena alasan “rasa hormat”, akhirnya ia tak bisa mengelak. Ditanya siapa yang ingin dihadapi jika ini memang perpisahan, Salah langsung menjawab dengan senyum tipis: “Messi.”
Sejarah Pertemuan Salah dan Messi Sebelum Bentrok di Piala Dunia
Pertandingan Salah vs Messi di Atlanta pada Selasa nanti akan menjadi duel pertama mereka di level tim nasional. Keduanya sudah dua kali bertemu di Liga Champions – pertama pada 2015 saat Salah masih membela Roma, lalu empat tahun kemudian di leg pertama semifinal Liverpool vs Barcelona yang berakhir 0-3 di Camp Nou. Namun, kebanyakan orang ingat apa yang terjadi selanjutnya, meski Salah absen di leg kedua karena gegar otak. Pelatih Jurgen Klopp mengatakan kaos “Never give up” yang dikenakan Salah menjadi inspirasi untuk salah satu comeback terbesar dalam sejarah sepak bola.
Mesir butuh keyakinan semacam itu dan lebih banyak lagi saat berhadapan dengan juara dunia asuhan Lionel Scaloni. Argentina hanya kalah lima kali dari 100 pertandingan selama tujuh tahun kepelatihan Scaloni. Memiliki seorang jenius tentu membantu. Tapi, seperti yang dikatakan direktur tim nasional Mesir, Ibrahim Hassan pekan ini, mereka memiliki pria yang mencetak 257 gol dan memenangkan empat Sepatu Emas Premier League di Liverpool. “Kami tidak fokus pada Messi. Kami bilang ke pemain: keluar, mainkan permainan kalian, abaikan besar nama lawan. Mereka punya Messi, tapi kami punya Mohamed Salah – dan kami punya 26 Messi kami sendiri,” ujar Hassan.
Beban Kerja dan Kondisi Fisik Salah Jadi Sorotan
Ada kekhawatiran besar soal beban bermain Salah setelah ia dipulangkan dengan tergesa-gesa dari cedera hamstring yang memaksanya keluar saat melawan Iran di fase grup. Ia terlihat berjalan-jalan di pusat kota Atlanta bersama rekan setimnya Minggu pagi setelah tiba di Georgia 24 jam sebelumnya. Argentina terbang masuk pada hari yang sama, dengan sedikit kekhawatiran soal perputaran cepat setelah pertandingan ketat melawan Cape Verde di Florida. “Yang saya khawatirkan sekarang adalah hanya ada empat hari untuk istirahat dan perjalanan,” kata mantan penyerang Manchester City, Sergio Agüero, yang 101 kali membela Argentina. “Banyak pemain mengalami kram, dan kini Anda melawan Mesir, yang juga tim yang sangat kuat secara fisik. Mereka punya kualitas lebih di depan daripada Cape Verde.”
Ancaman Lain dari Mesir dan Kapten Masa Depan
Mesir tentu bisa mengambil hati dari kesulitan yang ditimbulkan Cape Verde terhadap pertahanan berpengalaman Argentina. Omar Marmoush dari Manchester City menjadi ancaman lain meski belum tampil maksimal. Penyerang remaja Hamza Abdelkarim, yang bermain untuk tim B Barcelona dan selalu masuk dari bangku cadangan, dianggap sebagai penerus alami Salah. Ketika ditanya apakah ia pernah bermimpi bertemu Messi dalam pertandingan, ia menjawab: “Kami bermain melawan Argentina, bukan melawan Messi.”
Masa Depan Salah: Kapten Hingga 2030 dan Klub Baru?
Kabar yang ditunggu-tunggu di Mesir tampaknya terkonfirmasi pada Sabtu saat anggota dewan Federasi Sepak Bola Mesir, Moustafa Abozahra, mengumumkan Salah akan tetap menjadi kapten hingga Piala Dunia 2030 dengan Hossam Hassan tetap sebagai pelatih. Namun, hal itu masih harus dilihat. Belum ada konfirmasi soal klub mana yang akan dibela pemain 34 tahun itu musim depan setelah kontraknya di Liverpool berakhir 1 Juli. Uang pintar tampaknya mengarah ke langkah menggiurkan ke Liga Pro Saudi, meski jangan menutup kemungkinan kepindahan mengejutkan ke raksasa Eropa. Pada Mei, ia mengatakan punya banyak “opsi bagus.”
Salah bergelut dengan cedera di musim terakhirnya di Liverpool dengan latar belakang ketidakcocokan dengan pelatih yang kemudian dipecat, Arne Slot. Tapi ia menciptakan lebih banyak peluang daripada pemain lain di Piala Dunia ini, yaitu 16, dan jelas masih bisa memberi banyak kontribusi meski hanya setengah fit. Seperti yang terkenal dengan perayaan pose pohon, sejak musim keduanya di Liverpool, Salah mengikuti program yoga yang dirancang untuk membantu stres sebagai superstar dan memperpanjang kariernya. Tergantung langkah selanjutnya, tidak ada alasan ia tidak bisa mengikuti jejak Messi yang berusia 39 tahun dan bertahan hingga Piala Dunia lain.
Kesimpulan: Duel Penuh Gengsi dengan Banyak Cerita
Pertandingan antara Mesir dan Argentina di babak 16 besar Piala Dunia ini bukan sekadar laga biasa. Ini adalah panggung pamungkas bagi Salah vs Messi di level internasional. Dengan kemenangan pertama Mesir di fase gugur melawan Australia, tim asuhan Hossam Hassan punya banyak momentum. Kelonggaran tanpa beban dan segalanya untuk diraih membuat Mesir menjadi ancaman yang tak bisa dianggap remeh oleh Argentina. Bagi Salah, ini juga kesempatan untuk mencetak gol yang ia perlukan untuk menyamai rekor nasional pelatihnya, Hossam Hassan, yang mencapai 69 gol. Duel ini akan menjadi milik siapa? Kita nantikan di Atlanta.
